Setelah mengalami kejatuhan harian terbesarnya dalam dua bulan, harga minyak flat dalam tiga sesi terakhir di tengah mencuatnya kembali isu pasokan berlimpah.

Harga terus tertekan karena bertambahnya pasokan AS, yang terus menggenjot produksi. Setelah sempat terganggu karena badai, produksi minyak AS kembali aktif. Output AS mencapai 9,65 juta barel per hari (bph) sepanjang Nopember, berarti naik 15% dari 2016. Data dari Energy Information Administration (EIA) Rabu lalu menunjukkan cadangan AS bertambah 1,9 juta barel minggu lalu.

Bahkan produksi AS diperkirakan semakin tinggi di masa mendatang. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan AS menyumbang 80% pertumbuhan produksi minyak global dalam 10 tahun ke depan dan akan memproduksi 30% lebih banyak gas dari Rusia. Lembaga tersebut juga mengatakan AS, yang industri energinya mengalami kebangkitan berkat teknologi fracking, akan menjadi jawara energi global.

Tekanan ke harga juga datang dari munculnya keraguan Rusia akan mendukung kelanjutan kesepakatan pemangkasan. Menurut sumber anonim, Rusia berpandangan masih terlalu dini untuk mengumumkan perpanjangan kesepakatan dalam pertemuan OPEC akhir bulan nanti. Grup tersebut akan menggelar pertemuan reguler pada 30 Nopember nanti di Wina, Austria untuk membahas kelanjutan kesepakatan. OPEC harus meyakinkan Rusia perpanjangan diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar.

Pada jam 16:15 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Desember naik 25 sen ke $55,50 per barel. Dalam tiga sesi terakhir, harga terjebak dalam range sempit setelah anjlok 2% Selasa lalu. Harga sedang menuju penurunan mingguan pertama dalam 6 pekan. Bila ditutup di bawah $54,70, harga terancam menuju 54,20-54,00.