Bank sentral di Asia diperkirakan tak serta merta tertular kenaikan bunga, setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve menerapkan kenaikan. Malah, langkah bank sentral di Asia bakal penuh kehati-hatian.

Penyebabnya adalah bunga murah yang disediakan bank-bank sentral di Asia kini telah mengasilkan utang yang subur di kawasan. Jika mengikuti langkah pengetatan moneter seperti AS atau kenaikan bunga seperti yang dilakukan bank sentral Korea Selatan, tumpukan utang akan membengkak.

Korea Selatan yang menaikkan bunganya pada 30 November lalu mencatat pembengkakkan utang rumah tangga sampai 150% dari pendapatan. Bahkan lebih besar, yaitu 194% di Australia yang akhirnya membiarkan bunga bertahan di level terendah 1,5% pada 5 Desember lalu.

Bank of Korea menghitung, mengingat 70% kredit rumah tangga (household loan) dari lembaga keuangannya membebankan bunga floating, kenaikan bunga 25 basis poin akan mengerek utang sektor ini sebesar KRW 2,3 triliun per tahun, berbanding KRW 1,4 triliun pada September lalu.

The Fed AS diperkirakan akan menaikkan bunga pada pekan ini, lalu tiga kali pada tahun depan. Dengan langkah AS ini, kesetiaan investor pada aset Asia akan diuji dan menyulut keinginan bank sentral negara lain ikut menaikkan bunga untuk mempertahankan dana asing.

“Utang di Asia yang besar membuatnya terpapar penyesuaian risiko kredit global, kemungkinan akan terkejut dengan inflasi,” kata Ekonom Nomura Holdings Inc, Rob Subbaraman pada Bloomberg.

Tidak semua bank sentral kawasan akan menaikkan bunga. Tapi, kemungkinan besar, di negara-negara dengan rasio utang rumah tangga relatif rendah, seperti Filipina, bank sentralnya paling agresif ikut menaikkan bunga tahun depan. Prediksi Subbaraman, kenaikannya sampai empat kali pada 2018.

Tapi seperti Jepang, salah satu negara dengan rasio utang terbesar, hanya segelintir ekonom yang melihat kemungkinan Bank of Japan akan melakukan pengetatan moneter. Stimulus yang selama ini digelontorkan untuk mengejar target inflasi 2%, telah membengkakkan neraca Bank of Japan (BOJ) hampir sebesar ekonominya.

David Mann, Ekonom di Standard Chartered Plc menilai, secara kolektif, utang membengkak di Asia akan menjadi penyaring terhadap siklus pengetatan. “Akan lebih sulit menaikkan bunga mengingat kepekaan terhadap bunga lebih tinggi,” katanya
sumber: kontan.co.id

By |2017-12-13T06:14:36+00:00December 13th, 2017|Bisnis & Ekonomi|0 Comments

Leave A Comment