Tren positif penguatan rupiah diperkirakan masih akan berlanjut pada Jumat (19/1). Perbaikan ekonomi China dan sajian data domestik yang menggembirakan diyakini masih mampu menopang posisi mata uang Garuda. Rupiah masih berada dalam tren bullish.

“Masih ada peluang menguat. Data China masih menopang,” ujar David Sumual, ekonom PT Bank Central Asia kepada Kontan, Kamis (18/1).

Informasi saja, Biro Statistik China baru saja merilis, pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV 2017 yang dicapai stabil pada level 6,8% dibanding kuartal sebelumnya. Kemudian data produksi industri bulan Desember 2017 juta dilaporkan meningkat dari 6,1% ke 6,2%.

Tak hanya dari luar negeri, kata David, kondisi ekonomi domestik juga masih menopang penguatan rupiah. Sentimen tersebut datang dari posisi utang luar negeri swasta Indonesia yang mengalami pertumbuhan di bulan November 2017 dan keberhasilan lelang Surat Utang Negara (SUN) yang meraup dana sebanyak Rp 25,5 triliun.

“Kalau dari AS masih belum ada yang cukup berpengaruh,” imbuhnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Lukman Leong, Analis PT Valbury Asia Futures. Ia pun melihat tidak ada rilis data Amerika Serikat (AS) yang bakal mempengaruhi pergerakan rupiah. Menurutnya pergerakan mata uang Garuda akan dipengaruhi dari hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pasa Kamis (18/1).

“Kalau BI menahan suku bunganya ini positif untuk rupiah,” timpalnya.

Ia menebak pada Jumat (18/1) valuasi rupiah akan bergerak pada kisaran Rp 13.365 – Rp 13.310 per dollar AS. sedangkan David memperkirkan Rp 13.320 – Rp 13.370 per dollar AS.
sumber:kontan.co.id

By |2018-07-21T22:02:40+00:00January 19th, 2018|Analisa|0 Comments

Leave A Comment