Berdasarkan riset Economist Intelligence Unit, perekonomian Amerika Serikat akan kembali mengalami resesi. Namun, resesi yang terjadi tergolong ringan.

“Kami memprediksi perekonomian akan jatuh ke jurang resesi teknikal di awal 2020,” jelas Andrew Staples, direktur Economist Intelligence Unit untuk Asia Tenggara.

Satu dekade setelah krisis keuangan global, perekonomian AS tumbuh dengan laju tercepat dalam lebih dari dua tahun, yakni dengan tumbuh 3% atau lebih selama dua kuartal berturut-turut.

Namun, pertumbuhan ekonomi AS ini dapat terganggu di masa mendatang, meskipun secara historis tingkat pengangguran rendah 4,1%, dan momentum rekor di Wall Street yang menambahkan triliunan dollar dalam kapitalisasi saham pada 2017.

“Perekonomian AS telah melaju cukup kencang selama beberapa waktu, dan faktanya, proses pemulihan itu berlangsung cukup lama,” katanya.

Sebuah hasil riset teranyar yang dirilis Economist Intelligence Unit memperingatkan, prospek pengetatan suku bunga lebih lanjut dan lebih agresif oleh Federal Reserve akan terlalu berat ditanggung oleh ekonomi AS.

“Kami memperkirakan Fed akan menaikkan suku bunganya sebanyak tiga kali tahun ini, mungkin empat kali lagi tahun depan. Sehingga kami memperkirakan terjadi resesi ringan di awal 2020,” kata Staples.

Perusahaan riset tersebut tidak memprediksi pemotongan pajak pribadi dan perusahaan di Amerika Serikat akan mendorong lonjakan investasi bisnis, karena mereka percaya ekonomi sudah mendekati akhir siklus bisnis reguler.

“Bahkan jika itu terjadi, atau jika Trump menyetujui paket pengeluaran infrastruktur utama, hal itu akan menyebabkan inflasi, dan mendorong Federal Reserve untuk merespons dengan pengetatan moneter yang lebih cepat yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang positif,” demikian hasil riset dalam laporan Economist Intelligence Unit.

Namun, Staples juga meramal, resesi yang terjadi tidak akan berlangsung lama.

“Kami pikir resesi yang terjadi akan sangat ringan. Dan kami pikir jika Anda membandingkan AS dengan negara maju lainnya di seluruh dunia, kami masih menganggap AS akan berada dalam posisi yang cukup baik untuk mengambil tindakan moneter yang tepat dan memangkas suku bunga,” tambahnya.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa stimulus fiskal dan serangkaian pemotongan suku bunga oleh Federal Reserve akan mendorong ekonomi AS untuk bangkit kembali pada 2021 dengan pertumbuhan sebesar 2,1%, diikuti oleh pertumbuhan 2% di 2022.
sumber:kontan.co.id