Tren penguatan rupiah selama beberapa waktu terakhir tampaknya bakal segera berakhir. Nilai tukar rupiah berpotensi terkoreksi.

Indikasi ini sudah terlihat di perdagangan kemarin. Kurs spot rupiah memang masih menguat 0,13% ke Rp 13.314 per dollar AS. Tapi, kurs tengah BI turun tipis 0,02% ke Rp 13.321 per dollar AS.

Analis Monex Investindo Futures Putu Agus Pransuamitra menyebut kemarin indeks dollar AS masih terpuruk. Per pukul 16.03 WIB, indeks dollar melemah 0,47% dan bertengger di posisi 89,70.

Penyebabnya, anggaran belanja AS untuk setahun penuh di 2018 masih belum jelas. “Senat AS baru menyetujui anggaran hingga 8 Februari, sisanya belum pasti,” kata Putu.

Ekonom Bank Mandiri Rully Arya Wisnubrata menambahkan, dollar AS juga tertekan data ekonomi dari kawasan Eropa yang positf. Indeks Flash Service PMI Eropa di Januari 2018 berada di level 57,6. Posisi ini lebih tinggi dari periode sebelumnya, yakni di 56,6.

Pergerakan rupiah hari ini akan lebih dipengaruhi sentimen eksternal. Pelaku pasar antara lain akan memperhatikan kebijakan moneter petinggi European Central Bank (ECB) mengenai suku bunga rencana tappering off. Dari dalam negeri, tidak ada sentimen yang cukup kuat menggerakkan mata uang Garuda.

Karena itu, Rully memperkirakan, rupiah hari ini berpotensi koreksi dan bergerak di rentang Rp 13.305–Rp 13.345 per dollar AS. Sedang Putu memprediksi rupiah bergerak di kisaran Rp 13.260–Rp 13.340 per dollar AS.

By |2018-01-25T10:49:58+00:00January 25th, 2018|Analisa|0 Comments

Leave A Comment