Bank Sentral Amerika Serikat alias The Federal Reserve (The Fed) memerintahkan Wells Fargo & Co. untuk menekan pertumbuhan bisnisnya. Ini dilakukan sampai The Fed menilai Wells Fargo telah cukup memperbaiki tata kelola dan kontrol dalam perusahaan, pasca kasus pembuatan akun fiktif yang melanda bank global ini beberapa waktu lalu.

Seperti diberitakan Reuters, Minggu (4/2), The Fed tidak mengizinkan aset Wells Fargo melebihi US$ 1,95 triliun. Jumlah tersebut merupakan posisi aset Wells Fargo per akhir Desember 2017.

Akibat sikap The Fed tersebut, manajemen Wells Fargo memperkirakan akan ada pemotongan keuntungan sebesar US$ 300 juta hingga US$ 400 juta pada tahun 2018 ini. Untuk memenuhi keputusan bank sentral, Wells Fargo akan memotong sejumlah bagian dalam neraca keuangan, semisal deposito perusahaan dan aset perdagangan dalam upaya mengembangkan bisnis inti. Pemangkasan itu mewakili sekitar 1,5% hingga 1,9% akun Wells Fargo tahun 2017.

Untuk meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat, Wells Fargo juga akan mengganti tiga eksekutif dalam jajaran direksi pada April mendatang. Selanjutnya pada akhir tahun nanti, akan penggantian direksi lagi sebanyak empat orang.

Akibat kebijakan The Fed tersebut, saham Wells Fargo langsung rontok 6,1% menjadi US$ 60,10 per saham pada akhir penutupan pekan lalu.

Chief Executive Officer (CEO) Wells Fargo menyatakan bahwa pihaknya berkomitmen memperbaiki kasus yang terjadi beberapa waktu lalu. Dia menyatakan perombakan manajemen dan tata kelola perusahaan telah dilakukannya, untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi di masa lalu.

Sekadar mengingatkan kembali, pada tahun 2016, Wells Fargo terlibat skandal pembukaan rekening bank ilegal tanpa izin, yang jumlahnya mencapai 3,5 juta rekening.

Biro Perlindungan Keuangan Konsumen AS atau Consumer Financial Protection Bereau telah menjatuhkan denda senilai US$ 190 juta kepada Wells Fargo karena kasus ini.

Terkait perintah The Fed, Wells Fargo akan menyewa konsultan untuk memeriksa dan memantau perkembangan bisnisnya sampai regulator merasa puas. Gubernur The Fed, Janet Yellen menyatakan The Fed tidak menolelir kasus seperti ini.
sumber : kontan.co.id