Koreksi pada indeks saham Wall Street menuai pertanyaan. Menurut ekonom, anjloknya bursa saham AS ini dinilai sebagai respon teknikal pada valuasi saham AS yang sudah terlalu tinggi.

Indeks Down Jones pada perdagangan Senin (5/2) terlihat merosot 4,6% atau turun 1.175 basis poin ke level 24.345. Indeks S&P juga turun 4,1% ke level 2.648 dan indeks Nasdaq yang kaya emiten teknologi jatuh 3,7% ke level 6.967.

Ekonom BCA David Sumual melihat, investor global tengah melarikan diri dari saham AS dan mengincar aset lainnya. Salah satu efeknya adalah dollar AS sempat mendaki dan membuat rupiah tergerus. Terbukti, rupiah juga terpapar dan sempat menyentuh level Rp 13.600 pada perdagangan intraday hari ini.

Kondisi ini bisa berlangsung selama terjadi kepanikan di pasar saham. “Selama ini saham Wall Street sudah bubble buy (sudah naik terlalu tinggi) jadi tinggal tunggu koreksi,” jelas David kepada Kontan.co.id, Selasa (6/2).

Menurut David, koreksi pada indeks saham AS ini juga sebenarnya telah terlihat sejak Jumat (2/2) lalu. Kala itu, terdapat rilis sektor tenaga kerja swasta AS mencatatkan penambahan 200.000 tenaga kerja. Angka ini lebih tinggi dari periode sebelumnya di 160.000. Tingkat pengangguran juga berhasil distabilkan di level 4,1%.

Data ini memberikan penguatan pada rencana kenaikan suku bunga. “Mereka khawatir inflasi AS bisa naik lebih cepat, artinya mereka khawatir suku bunga juga bisa naik lebih cepat dan menyebabkan kepanikan jual saham,” jelas David.

Korelasinya, kenaikan suku bunga yang lebih awal akan berakibat pada kenaikan dollar AS. “Penyerapan tenaga kerja bagus maka industri akan susah mencari sumber daya, maka perusahaan harus bayar lebih mahal. Itu yang bisa membebani industri,” jelas David.
sumber : kontan.co.id

By |2018-07-21T22:02:40+00:00February 7th, 2018|Laporan Pasar|0 Comments

Leave A Comment