Kepercayaan masyarakat terhadap ekonomi Jepang yang memudar membuat yen melemah di hadapan mata uang utama dunia lainnya. Kemarin, pasangan kurs USD/JPY menanjak 0,34% ke level 109. EUR/JPY juga naik 0,14% menjadi 134,28. Sedang pairing GBP/JPY terangkat 0,18% ke posisi 152,045.

Kemarin, Kantor Kabinet Jepang merilis indeks hasil survei pengamat ekonomi. Ini adalah survei proyeksi ekonomi dengan responden 2.000 pekerja di sektor yang terhubung langsung dengan kegiatan belanja konsumer.

Dari hasil survei di Januari, indeks Economy Watchers tersebut berada di level 49,9. Ini adalah rekor terendah dalam enam bulan terakhir. Hasil ini berarti masyarakat di Jepang pesimistis melihat prospek ekonomi Negeri Sakura tersebut.

Realisasi ini di luar dugaan pelaku pasar. Sebab, hari sebelumnya, Jepang merilis data-data ekonomi yang ciamik. Transaksi berjalan Desember 2017 mencetak surplus ¥ 797,2 miliar.

Ini membuat surplus neraca transaksi berjalan Jepang sepanjang tahun lalu mencapai ¥ 21,87 triliun, surplus tertinggi sejak 2007 lalu. Selain itu, rata-rata pendapatan masyarakat Jepang di 2017 naik 0,7%. Angka ini lebih tinggi dari proyeksi sebesar 0,6%.

Tambah lagi, Gubernur Bank of Japan (BoJ) Haruhiko Kuroda tetap mempertahankan kebijakan moneter yang longgar. Hal tersebut dilakukan hingga target inflasi Jepang terpenuhi.

Tak heran jika dollar Amerika Serikat (AS) berhasil ungguli yen. Analis memprediksi pasangan USD/JPY masih berpotensi melanjutkan penguatan di akhir pekan ini. Apalagi the greenback sedang diselimuti sentimen positif.

Salah satunya, Senat AS telah menyetujui anggaran belanja untuk sektor militer dan dalam negeri. “Kesepakatan ini menutup kemungkinan government shutdown kembali terjadi. Jadi kini tinggal menunggu persetujuan Kongres saja,” kata analis Global Kapital Investama Berjangka Nizar Hilmy, Kamis (8/2).

Euro juga bisa menguat terhadap yen, lantaran data ekonomi di beberapa negara utama Eropa positif. Selain itu, koalisi tiga partai utama di Jerman akhirnya menyetujui pemerintahan koalisi. Sentimen ini turut mengangkat kurs euro di hadapan yen.

Namun, posisi euro belum aman. Mengingat Kanselir Jerman Angela Markel masih mendapat tekanan terkait pemilihan posisi kabinet. “Posisi menteri keuangan Jerman belum jelas,” kata Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto.

Tapi hari ini pairing EUR/JPY masih bisa menguat. Sebab, belum ada data positif yang bisa mendorong nilai tukar yen menguat.

Sementara poundsterling mendapat suntikan tenaga setelah Perdana Menteri Inggris Theresa May condong mengambil opsi hard Brexit, terkait keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Artinya, Negeri Ratu Elisabeth ini bakal memiliki kontrol keuangan, garis batas dan hukum regulasi yang lepas dari Uni Eropa.

Dus, Inggris berpotensi besar akan menciptakan kesepakatan dagang yang sepenuhnya baru terhadap UE. “Kepentingan nasional menjadi semangat kebijakan ini, maka jadi positif untuk Inggris,” kata Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono.

Selain itu, pidato Gubernur Bank of England (BoE) Mark Carney kemarin bernada hawkish dan membuat poundsterling melesat. Hasil pertemuan anggota BoE memberi sinyal kenaikan suku bunga lebih awal dan lebih besar dari perkiraan sebelumnya diperlukan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi bunga pinjaman yang naik.

Namun, bulan ini, sembilan anggota BoE masih sepakat mempertahankan suku bunga Inggis di level 0,5%.
sumber : kontan.co.id

By |2018-02-09T11:02:29+00:00February 9th, 2018|Laporan Pasar|0 Comments

Leave A Comment