Rontok di akhir pekan lalu, harga minyak naik pelan-pelan pada pekan ini. Selasa (13/2) pukul 7.16 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret 2018 di New York Mercantile Exchange menguat 0,34% ke US$ 59,49 per barel daripada penutupan kemarin pada US$ 59,29 per barel.

Jumat pekan lalu, harga minyak anjlok 3,19% ke US$ 59,20 per barel dari hari sebelumnya US$ 61,15 per barel. Penurunan harga ini terjadi setelah rilis data Energy Information Administration (EIA) yang menyebut produksi minyak Amerika Serikat (AS) tembus rekor 10,25 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Tingkat produksi minyak AS ini telah melampaui Arab Saudi, yang merupakan produsen minyak terbesar OPEC. Kekhawatiran pasokan berlebih kembali menekan harga minyak.

Kenaikan harga minyak dalam dua hari ini ditopang oleh pelemahan nilai tukar dollar AS. Dollar yang melemah akan menyebabkan harga minyak yang diperdagangkan dalam dollar jadi lebih murah bagi pengguna mata uang lain.

“Jika pertumbuhan global melambat dan permintaan minyak mulai melambat, maka pertumbuhan produksi minyak AS akan menjadi masalah, karena pangsa pasar minyak OPEC akan mengecil dan upaya OPEC sia-sia,” kata Bjarne Schieldrop kepada Reuters.

OPEC berupaya mengurangi pasokan lewat kesepakatan pembatasan produksi. Kesepakatan akan berjalan hingga akhir tahun ini.

Data Baker Hughes menunjukkan, ada penambahan 26 rig yang beroperasi pada pekan lalu. Total rig yang beroperasi di AS mencapai 791, tertinggi sejak April 2015. “Investor khawatir akan produksi minyak AS dan kepatuhan para produsen minyak,” ungkap Goldman Sachs dalam catatan yang dikutip CNBC.
sumber : kontan.co.id

By |2018-02-13T09:07:10+00:00February 13th, 2018|Bisnis & Ekonomi|0 Comments

Leave A Comment