Inflasi tahunan Inggris di Januari 2018 berhasil melebihi proyeksi para ekonom. Hal tersebut membuat poundsterling unggul dihadapan sebagian besar mata uang utama dunia.

Kantor Statistik Nasional Inggris merilis, inflasi tahunan di Januari mencapai 3%, atau sama dengan inflasi di Desember 2017. Angka ini lebih tinggi dari perkiraan para ekonom yang cuma sebesar 2,9%.

Meski tingkat inflasi tetap, tetapi harga bahan pangan di Inggris turun. Selain itu, kenaikan biaya bahan baku di Negeri Ratu Elisabeth ini juga melambat. Ini artinya inflasi Inggris ditopang oleh belanja, bukan kenaikan harga.

Harga beberapa barang impor juga turun. Ini jadi sentimen positif. Apalagi, setelah berniat keluar dari Uni Eropa, harga barang impor di Inggris menjadi lebih mahal.

Dengan inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan, tekanan kepada Bank of England (BoE) untuk segera menaikkan suku bunga makin besar. Mengutip BBC, Chris Williamson, Kepala Ekonom IHS Markit, memprediksi, kenaikan suku bunga bisa dilakukan pada Mei mendatang.

Pekan lalu, Gubernur BoE Mark Carney sudah mengindikasikan bakal menaikkan suku bunga lebih cepat dari perkiraan. Ini dilakukan agar inflasi Inggris mendekati level 2% dalam dua tahun ke depan, bukan tiga tahun seperti prediksi semula.

Hal ini membuat kurs GBP kian perkasa di hadapan dollar Amerika Serikat (AS). Kemarin, pasangan GBP/USD menanjak 0,58% ke 1,3918.

Apalagi, dollar AS tengah tertekan sentimen negatif. Kemarin, indeks dollar AS turun 0,59% ke 89,67. Padahal sehari sebelumnya indeks ini masih bertahan di atas 90,00. “Data inflasi Inggris ini bisa membuat poundsterling terus menguat terhadap dollar AS,” kata analis Global Kapital Investama Berjangka Alwi Assegaf, Selasa (13/2).

Pergerakan pasangan ini juga dibayangi rilis inflasi Negeri Paman Sam. Jika hasilnya sesuai perkiraan, yakni di 0,3%, maka dollar AS bisa berbalik menguat.

Serupa dengan dollar AS, euro turun di hadapan poundsterling. Pairing EUR/GBP melemah 0,18% jadi 0,88679. Analis Monex Investindo Futures Faisyal mengatakan, konflik politik di Jerman masih menghantui kinerja euro. Ini bisa membuat pairing EUR/GBP kembali koreksi.

Walau sudah terjadi kesepakatan antara Kanselir Jerman Angela Merkel dan Partai Demokrat Sosial Jerman untuk membentuk koalisi, tapi hingga kini masih belum ada kelanjutan. Bahkan, sampai saat ini Partai Demokrat Sosial Jerman belum merilis keputusan resminya. Hal ini membuat pelaku pasar mengkhawatirkan nasib pucuk pemerintahan Jerman selanjutnya.

Meski begitu, Faisyal bilang, dari sisi fundamental, ekonomi di kawasan Uni Eropa dan Inggris sebenarnya ciamik. Bank sentral di kedua kawasan tersebut berniat mengerek suku bunga acuan. Sehingga pergerakannya saat ini bergantung pada kondisi politik. “Secara teknikal, euro masih berpeluang naik,” jelas dia.

Walau berhasil unggul terhadap mata uang utama lainnya, poundsterling justru loyo ketika berpasangan dengan yen. Pada perdagangan kemarin, GBP/JPY melemah 0,45% ke posisi 149,67.

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono bilang, kejatuhan pasar saham global pekan lalu berimbas positif pada yen Jepang. Investor memburu aset safe haven, termasuk yen.

Kini, investor masih berhati-hati karena menanti rilis data inflasi AS. Jika hasilnya sesuai perkiraan, pelaku pasar diprediksi tetap menggenggam yen. Karena itu, Wahyu memprediksi, pairing GBP/JPY tetap berada di bawah tekanan.
Sumber : kontan.co.id

By |2018-02-14T11:18:00+00:00February 14th, 2018|Analisa|0 Comments

Leave A Comment