StrategyDesk (Rabu, 14 Maret 2018)
Output industri China alami pertumbuhan lebih tinggi dari yang diperkirakan pada awal tahun ini. Kondisi tersebut indikasikan akan adanya momentum positip bagi ekonomi. Tetapi disisi lain, presiden Trump akan menggunakan strategi pemerintahannya dengan menyiapkan kenaikan-kenaikan tarif impor dan target utama dari kebijakan Trump tersebut adalah sektor teknologi.

Adanya kenaikan tarif bagi produk teknologi import memiliki potensi untuk berikan pukulan bagi pertumbuhan sektor industri China.

Trump kemungkinan besar dalam waktu dekat akan keluarkan kebijakan tarif impor dari China yang saat ini nilainya mencapai $60 milliar dan sektor yang akan menjadi target utama bagi kebijakan tersebut adalah sektor teknologi dan telekomunikasi. Kesimpulan tersebut dilaporkan oleh Reuters pada Selasa (3/13/2018) kemarin.

Kebijakan terbaru dari Trump terkait barang impor adalah adanya kenaikan tarif impor Baja dan Almunium. Dan kebijakan tersebut yang keluar pada minggu lalu telah memberikan tekanan peringatan terhadap pertumbuhan industri China dan data investasi China yang pada dua bulan awal tahun ini telah alami pertumbuhan yang signifikan.

Data industri China berdasarkan data departemen statistik yang rilis pada hari Rabu (3/14/2018) ini untuk periode Januari-Februari tunjukkan kenaikan sebesar 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Data tersebut berikan kejutan bagi para analis karena sebelumnya diperkirakan data tersebut hanya akan tunjukkan pertumbuhan sebesar 6,1 persen. Sebelumnya untuk periode Desember data output industri hanya tunjukkan pertumbuhan sebesar 6,2 persen.

Saat ini fokus utama pertumbuhan China adalah pada produk-produk “higher-value”. Output dari industri komputer, peralatan telekomunikasi dan produk elektronik lainnya alami kenaikan sebesar 12,1 persen. Output industri robot China saat ini berada pada kisaran pertumbuhan 25 persen.

Walaupun sejauh ini ekonomi China alami pertumbuhan yang cukup luar biasa, namun dengan adanya kebijakan-kebijakan Trump maka kondisinya berpeluang akan alami perubahan kedepannya. Dengan kondisi yang ada saat ini, sebagian besar analis memperkirakan pertumbuhan ekonomi China akan cenderung berada pada level ‘moderate” untuk tahun ini. Selain adanya kendala dari kebijakan Trump, kebijakan dalam negeri China untuk menahan keagresifan pasar properti dan pengurangan terhadap praktek pemberian kredit yang beresiko menjadi alasan para analis berikan analisa pertumbuhan ekonomi cenderung moderate tersebut.

Saat ini jumlah surplus perdagangan China-Amerika berada pada angka $375 milliar dan dengan kebijakan yang diterapkan oleh Trump angka tersebut kemungkinan besar berpeluang untuk alami penurunan.

Berdasarkan data, jumlah ekport elektronik dan teknologi China ke Amerika mencapai 43 persen dari total eksport. Ekonom dari UBS perkirakan kenaikan tarif sebesar 10 persen akan dapat memangkas GDP China antara 0,3 sampai dengan 0,4 persen dan akan berpeluang berikan pukulan bagi negara-negara Asia lainnya yang menjadi bagian dari rantai suplai barang ke China.

Walaupun demikian diluar dugaan dari analisa yang ada, pasar investasi China terlihat cukup bergairah. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh data-data investasi.

Investasi Fixed-asset alami pertumbuhan sebesar 7,9 persen untuk periode Januari Februari. Sebelumnya analis perkirakan pertumbuhannya alami penurunan dari 7,2 persen pada 2017 menjadi 7 persen.

Investasi private sector alami kenaikan sebesar 8,1 persen, bandingkan dengan tahun 2017 yang hanya alami pertumbuhan sebesar 6 persen. Investasi private sector tercatat mewakili 60 persen dari seluruh investasi di China.

Investasi yang dilakukan oleh perusahaan BUMN alami kenaikan sebesar 9,2 persen. Dan investasi real estate tercatat alami kenaikan sebesar 9,9 persen, tertinggi dalam tiga tahun terakhir, walaupun disisi lain sebenarnya pemerintah China sedang menearpkan kebijakan pengetatan properti.

Untuk tahun ini, terkait akan adanya berbagai kebijakan Trump yang berpeluang merugikan China, pemerintah China sebenarnya telah lakukan antisipasi. Setelah sebelumnya dalam beberapa tahun terakhir kebijakan pemerintah China terus menerus berikan stimulus bagi pertumbuhan ekonominya, saat ini pemerintah China menyatakan akan lebih fokus untuk menurunkan resiko finansial.