StrategyDesk (Jum’at, 16 Maret 2018)
Masa-masa suram industri perbankan Amerika saat ini telah berlalu. Tidak terasa sudah 10 tahun berlalu saat JP Morgan lakukan pembelian bank Bear Stearns yang alami kebangkrutan saat krisis finansial melanda Amerika. Pada saat itu bisnis perbankan menjadi bisnis yang dihindari oleh para investor banyaknya permasalahan yang mereka alami. Berbeda dahulu berbeda sekarang, saat ini para investor melihat bisnis perbankan Amerika sebagai bisnis yang bersinar dan sangat menarik. Walaupun sejauh ini saham-saham perbankan telah alami kenaikan harga yang relatif besar, namun dari sisi investor melihat bahwa saham-saham perusahaan perbankan masih memiliki peluang untuk naik lebih tinggi lagi.

Pada 16 Maret 2008, sepuluh tahun yang lalu, JP Morgan umumkan penawaran pembelian saham Bear Stearns pada harga $2 per lembar saham, harga yang cukup rendah, karena perusahaan tersebut memiliki jumlah asset bermasalah yaitu “mortgage bonds” yang cukup besar dan disisi lain nasabah yang lakukan penyimpanan uang di perusahaan tersebut banyak yang lakukan penarikan dana mereka. Dan saat itu secara keseluruhan perbankan di Amerika memiliki masalah keuangan.

Berjalannya waktu tidak tersasa telah berjalan selama 10 tahun, “balance sheets perbankan Amerika alami perubahan besar menjadi jauh lebih sehat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari penerapan sejumlah kebijakan oleh pihak regulasi, salah satunya adalah Dodd-Frank Act 2010 yang memaksa perbankan untuk lebih transparant dan memkasa mereka untuk menambah jumlah cadangan dana serta membuat mereka menurunkan resiko investasi.

Indek sektor perbankan S&P 500 tunjukkan kenaikan selama enam tahun dari rentang waktu 10 tahun yang telah berlalu tersebut, termasuk didalmnya kenaikan sebesar 20 persen dalam 2 tahun terakhir. Adanya keyakinan investor terhadap peningkatan laba dari pengaruh reformasi pajak, kenaikan tingkat suku bunga dan pelonggaran yang dilakukan oleh pihak regulasi menjadi pendorong utama bagi kenaikan sektor perbankan akhir-akhir ini.

Tetapi diluar itu semua juga muncul pertanyaan penting dari para investor, yaitu akan seberapa jauh lagi kenaikan yang akan dialami oleh sektor perbankan kedepannya, karena kondisinya saat ini jumlah pengucuran kredit alami pertumbuhan, kerugian keredit alami kenaikan dan kekhawatiran Federal Reserve akan menaikkan tingkat suku bunga lebih cepat dari yang diharapkan.

Jumlah pengucuran kredit perbankan alami pertumbuhan sebesar 3,2 persen pada 2017 bandingkan dengan tahun 2016 yang alami pertumbuhan sebesar 6,5 persen dan untuk periode Februari silam pertumbuhannya adalah 2,7 persen.

JP Morgan menjadi salah satu perbankan dengan kenaikan cukup besar yang banyak menyumbang kenaikan indek S&P perbankan, dengan kenaikan harga saham sebesar 215 persen sejak 14 Maret, yang merupakan hari perdagangan saham terakhir sebelum perusahaan umumkan akuisisi Bear Stearns.

Saat ini saham JP Morgan diperdagangkan dengan forward P/E 12,7 kali bandingkan dengan P/E sektor perbankan yang tunjukkan angka 12,5 kali dan P/E indek S&P 500 yang tunjukkan angka 17 kali. Sebagai pembandingnya P/E JP Morgan saat akuisisi Bear hanya sebesar 10,7 kali, P/E sektor perbankan sat itu 12,3 persen dan P/E S&P 500 adalah 13.

Analis Wall Street perkirakan indek saham perbankan S&P 500 akan tunjukkan pertumbuhan earning sebesar 26 persen untuk 2018, bandingkan dengan tahun 2017 yang memiliki angka pertumbuhan sebesar 12,3 persen.

Kenaikan tingkat suku bunga bagi perbankan dalam kondisi normal akan berikan tambahan keuntungan akibat adanya penyesuaian bunga terhadap sejumlah kredit, tetapi jika kenaikannya terlalu cepat, maka akan timbul resiko dimana pihak kreditur untuk kredit jangka panjang seperti perumahan akan alami gagal bayar atau mereka akan cenderung lakukan refinancing hutang mereka.