Rupiah Melemah, Begini Saran Bos Mandiri untuk BI

//Rupiah Melemah, Begini Saran Bos Mandiri untuk BI

 PT Bank Mandiri Persero Tbk memperkirakan Bank Indonesia akan melakukan intervensi di pasar keuangan hingga rupiah menguat di kisaran Rp13.700-Rp13.900 per dolar AS sepanjang kuartal II 2018. Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo di Jakarta, Selasa, menyarankan BI dalam jangka waktu menengah untuk menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate, guna mencegah banyak modal asing yang keluar dari pasar saham dan obligasi.

“Jadi rasanya suku bunga The Fed naik akan terakselerasi. Indonesia jika tidak merespon, nanti ada selisih, nanti ada ‘sell-off’ dan penjualan di ekuitas,” kata Tiko, sapaan akrab Kartika.

Setelah modal asing keluar dari pasar saham, kata Tiko, bukan tidak mungkin investor juga akan mengalihkan dananya dari pasar obligasi, karena selisih antara imbal hasil obligasi di negara-negara maju dan Indonesia menyempit.

Selain itu, prospek pertumbuhan ekonomi di AS juga meningkat yang akan memicu kenaikan inflasi sehingga imbal hasil “yield” obligasi pemerintah AS, Treasury Bill, juga terangkat. Per Selasa ini, “yield” Treasury Bill bertenor 10 tahun mencapai tiga persen. Tiko memperkirakan BI akan melakukan intervensi besar-besaran pada akhir kuartal II 2018, ketika momentum kenaikan suku bunga Federal Reserve yang kedua kali semakin dekat.

Tekanan terhadap rupiah itu juga akan semakin berat saat itu, karena korporasi banyak yang membayar dividennya ke luar negeri sehingga permintaan valas melonjak.

“Maka itu, BI masih bisa memperkuat rupiah di Rp13.700-Rp13.900 per dolar AS,” ujarnya.

By |2018-07-21T22:02:39+00:00April 26th, 2018|Bisnis & Ekonomi|0 Comments

Leave A Comment