StrategyDesk (Rabu, 23 Mei 2018)
Oraganisasi Kesehatan Dunia (WHO) diberitakan telah mulai lakukan vaksinasi terhadap ribuan orang di Republik Demokratik Kongo. Masyarakat di negara tersebut peroleh vaksinasi dari WHO karena dinilai memiliki resiko tinggi untuk terkena wabah penyakit Ebola yang sangat berbahaya dan sering kali menyebabkan kematian.

Dalam pernyataannya yang disampaikan pada hari Senin minggu ini, WHO mengatakan dalam melaksanakan vaksinasi tersebut mereka melibatkan LSM dan pemimpin masyarakat setempat. Vaksin tersebut berdasarkan historisnya terbukti berhasil mengatasi Ebola di wilayah Guinea pada tahun 2015 silam, walaupun secara keseluruhan sebenarnya vaksin tersebut belum pernah diuji untuk mengatasi wabah dalam jumlah besar.

Dalam pelaksanan vaksinasi yang dikenal dengan nama rVSV-ZEBOV, WHO menyediakan lebih dari 7500 dosis vaksin. Pelaksanan vaksinasi oleh WHO tersebut dilakukan di wilayah katulistiwa sebelah barat laut DRC, dimana berdasarkan laporan yang dipublikasikan pada Jum’at minggu lalu, ditemukan adanya 46 kasus diduga Ebola pada wilayah tersebut dan telah menimbulkan kematian sebanyak 26 jiwa. Berdasarkan laporan, sebagian besar penderita Ebola ditemukan pada wilayah kota terpencil, dan hanya ditemukan sebanyak empat kasus di wilayah Mbandaka yang merupakan ibu kota provinsi dengan populasi penduduk sebanyak 1 juta jiwa.

Vaksin yang digunakan oleh WHO tersebut merupakan sumbangan dari Merck & Co. Perusahaan Farmasi tersebut peroleh hak paten vaksin Ebola dari pembelian paten yang mereka lakukan pada tahun 2014 silam. Walaupun vaksin tersebut belum peroleh izin untuk beredar dan digunakan di Amerika, tetapi berita positipnya vaksin ini mampu mengatasi Ebola dengan efektif berdasarkan uji coba pada tahun 2015 yang melibatkan 5800 orang dan saat ini sedang dalam proses untuk peroleh Izin beredar dan dipasarkan di Amerika

Berdasarkan sejarahnya penyakit Ebola ditemukan pertama kali pada tahun 1970-an, dan menewaskan lebih dari 11.000 orang di Afrika Barat selama wabah tersebut berlangsung yang terjadi pada era 2014 sampai dengan 2016.

Untuk saat ini, berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Start News pemilik hak paten vaksin Ebola di dunia hanya ada dua. Yang pertama disetujui oleh pemerintah China dan yang kedua oleh pemerintah Russia.

Jannsen Vaccines, yang merupakan salah satu unit usaha Johnson & Johnson dan GlaxoSmithKline PLC juga diberitakan sedang menunggu persetujuan izin edar dan dagang dari pemerintah Amerika.

Pada Selasa kemarin, saham Merck terlihat alami kenaikan signifikan, dan untuk tahun 2018 ini, saham Merck telah alami kenaikan sebesar 4,4 persen. Sebagai pembandingnya, saham Glaxo alami kenaikan 14 persen untuk 2018 dan Johnson & Johnson alami penurunan sebesar 12 persen pada tahun in. Bandingkan juga dengan indek S&P 500 yang alami kenaikan 2,4 persen dan Dow Jones Industrial Average yang alami kenaikan 1,1 persen pada tahun ini.

By |2018-05-23T20:15:03+00:00May 23rd, 2018|Bisnis & Ekonomi|0 Comments

Leave A Comment