• EURUSD-19-Des
    Pasar Tunggu RUU Pajak, Dollar Belum Banyak Gerak Pasar Tunggu RUU Pajak, Dollar Belum Banyak Gerak

    Pasar Tunggu RUU Pajak, Dollar Belum Banyak Gerak

Pasar Tunggu RUU Pajak, Dollar Belum Banyak Gerak

Dollar masih mengalami fluktuasi kecil dalam dua sesi pertama minggu ini, bergerak dalam rentang yang terbatas di saat pasar masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai RUU pajak.
Dollar sempat terangkat akhir pekan lalu setelah Republik dalam komite negosiasi Kongres-Senat Jumat lalu menyematkan sentuhan akhir dalam rancangan regulasi pajak baru yang mencakup pemotongan pajak korporat. Kongres yang dikuasai Republik optimis akan meloloskan legislasi pajak minggu ini setelah dua anggota Senat semalam sepakat mendukung RUU pajak. Kongres akan menggelar voting malam nanti, sedangkan Senat voting besok malam.
Bila minggu ini kedua voting selesai dan RUU pajak berhasil diloloskan, maka legislasi selesai sesuai target yaitu sampai di meja Presiden Trump sebelum Natal. Janji reformasi pajak menjadi salah satu faktor yang mengangkat dollar dan saham AS. Dengan mencakup pemotongan pajak korporat menjadi 20% dari 35%, diharapkan akan mengalirkan dana repatriasi.
Meski pejabat the Fed memperkirakan ekonomi AS akan mendapat dorongan jangka pendek dari reformasi pajak, mereka memperkirakan pertumbuhan akan kembali ke kisaran 2% pada 2020 dan tidak naik ke kisaran 3% seperti yang diprediksi Trump. Lolosnya RUU pajak mungkin bisa memberi efek dorongan sementara ke dollar. Namun Pergerakan dollar selanjutnya bergantung pada bagaimana implementasi reformasi pajak tersebut.
Sayangnya, dollar tidak mampu mempertahankan penguatannya. Sepanjang 2017, dollar sudah melemah 9% terhadap major currencies. Sempat menyentuh 103,40 di awal Januari 2017, yang merupakan level tertinggi dalam 13 tahun, kini posisinya di kisaran 93. Namun menjelang Natal dan Tahun Baru, pergerakan pasar diperkirakan terbatas di sisa tahun ini. Dalam perdagangan hari ini, indeks flat di 93,26 dan penutupan di bawah 93 mempersulit upaya kembali ke kondisi bullish. Terhadap yen, dollar melemah 0,1% ke 112,51 masih mencoba bertahan di atas 112,50.

EURUSD

USDJPY

By |December 20, 2017 6:37 am|Analisa|0 Comments
  • gold reli
    Emas Tertekan Penguatan Dollar & Saham Emas Tertekan Penguatan Dollar & Saham

    Emas Tertekan Penguatan Dollar & Saham

Emas Tertekan Penguatan Dollar & Saham

Emas belum banyak bergerak hari ini, kesulitan meraih momentum karena penguatan dollar dan saham global yang didukung oleh perkembangan terkait RUU pajak AS.
Dollar melaju setelah Republik dalam komite negosiasi Kongres-Senat Jumat lalu menyematkan sentuhan akhir dalam rancangan regulasi pajak baru yang mencakup pemotongan pajak korporat.

Petinggi Republik optimis Kongres akan meloloskan RUU itu minggu ini, dengan voting Senat secepatnya besok dan Presiden Trump menandatangani UU tersebut di akhir pekan.
Emas sempat reli sampai $1261 per troy ons Jumat lalu, namun terpangkas lajunya karena penguatan dollar menyusul pengumuman dari Senat AS. Setelah menyentuh level terendah dalam lima bulan minggu lalu, harga emas mencoba bangkit dengan reli signifikan di sesi selanjutnya. Namun daya dorongnya turun memasuki akhir pekan.
Sejak menyentuh level tertinggi tahun ini di $1357 September lalu, harga memasuki tren penurunan karena laju saham global dan penguatan dollar. Prospek kenaikan suku bunga the Fed dan pemulihan ekonomi global memicu peralihan dana dari safe haven. Apalagi belum ada lagi isu geopolitik yang menyebabkan risk aversion.
Dalam perdagangan di Asia hari ini, emas berada di $1255, 35 per troy ons, tidak jauh dari penutupan sesi sebelumnya. Posisi harga berada di atas MA 10 namun masih di bawah MA 25 dan 55. Penutupan di bawah MA 10 membuka potensi bearish. Kemudian RSI (14) flat di 41.

By |December 19, 2017 5:51 am|Laporan Pasar|0 Comments
  • EURUSD-18-Des
    Dollar Stabil, Pasar Masih Cermati RUU Pajak Dollar Stabil, Pasar Masih Cermati RUU Pajak

    Dollar Stabil, Pasar Masih Cermati RUU Pajak

Dollar Stabil, Pasar Masih Cermati RUU Pajak

Dollar stabil hari ini, berusaha mempertahankan penguatan yang diraih akhir pekan lalu setelah upaya reformasi pajak mendekati ratifikasi. Namun pergerakan tersendat saat pasar menunggu perkembangan lebih lanjut.
Dollar melaju setelah Republik dalam komite negosiasi Kongres-Senat Jumat lalu menyematkan sentuhan akhir dalam rancangan regulasi pajak baru yang mencakup pemotongan pajak korporat. Petinggi Republik optimis Kongres akan meloloskan RUU itu minggu ini, dengan voting Senat secepatnya besok dan Presiden Trump menandatangani UU tersebut di akhir pekan. Republik memang berjanji legislasi sampai di meja Trump sebelum Natal.
Namun penguatan dollar tersendat karena pasar bersikap wait-and-see sampai kesepakatan benar-benar dicapai. Menurut analis, Senat dan Kongres akan voting minggu ini dan ada sedikit kekhawatiran di pasar bahwa mungkin tidak akan berjalan semulus harapan, terutama dengan ada anggota Senat yang punya masalah kesehatan. Senator Thad Cochran dan John McCain sakit dan kemungkinan tidak hadir dalam voting.
Tidak ada even penting terjadwal di AS malam nanti, membuat pergerakan dollar cenderung terbatas. Indeks dollar melemah 0,1% ke 93,90 dengan sempat menembus 94, setelah menguat 0.3% akhir pekan lalu. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 112,64 setelah menguat 0,2% akhir pekan lalu. Selama mampu bertahan di atas support 112,50, dollar bisa menjaga potensi untuk menuju 113an.
Beralih ke mata uang lain, pound dalam berusaha rebound hari ini anjlok akhir pekan lalu karena aksi ambil untung setelah ada berita negosiasi Brexit akan berlanjut ke babak kedua di Januari nanti. Sepanjang Desember pergerakan sterling fluktuatif dengan kecendrungan turun setelah mendulang penguatan signifikan bulan lalu. Even penting baru ada Rabu nanti ketika Gubernur BOE Mark Carney memberi kesaksian di Parlemen. Sterling menguat 0,1% ke $1,3335 hari ini setelah anjlok 0,8% akhir pekan lalu. Penutupan di bawah $1,33 menjadi potensi bearish continuation.

EURUSD

””

By |December 19, 2017 5:50 am|Analisa|0 Comments
  • Nilai Tukar Rupiah
    Rupiah berpotensi melemah di perdagangan besok Rupiah berpotensi melemah di perdagangan besok

    Rupiah berpotensi melemah di perdagangan besok

Rupiah berpotensi melemah di perdagangan besok

Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat diperkirakan akan kembali melemah pada perdagangan Kamis (14/12). Hal ini seiring penantian pasar terhadap hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC).

Reny Eka Putri, Analis Pasar Uang Bank Mandiri menekankan bahwa pelemahan rupiah di hari esok kemungkinan besar bersifat terbatas. Pasalnya, pelaku pasar sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga acuan The Fed sebanyak 25 bps menjadi 1,5%.

Sebaliknya, pelaku pasar masih menanti arah kebijakan The Fed di tahun depan. Meski diprediksi The Fed akan dua kali menaikan suku bunga acuan di tahun depan, Reny menilai hal tersebut bisa saja berubah. “Mesti dilihat dulu efek kenaikan suku bunga yang sekarang seperti apa dalam beberapa bulan ke depan,” katanya.

Di samping itu, Reny juga memandang bahwa pasar masih menunggu perkembangan reformasi pajak AS. Walau RUU reformasi pajak sudah disetujui Senat, masih ada detail-detail kebijakan yang menjadi perdebatan antara Senat dan Parlemen. “Padahal masalah kebijakan ini ditargetkan selesai sebelum natal tiba,” tutur Reny.

Ia menambahkan, sentimen dalam negeri berupa Rapat Dewan Gubernur BI tidak akan berpengaruh besar terhadap pergerakan rupiah.

Reny pun memperkirakan, rupiah akan bergerak melemah di kisaran Rp 13.545–Rp 13.595 per dollar AS pada perdagangan besok. Menurutnya, potensi pelemahan di hari esok tidak hanya terjadi pada rupiah, melainkan juga sebagian besar mata uang dunia.

By |December 13, 2017 11:21 pm|Analisa|0 Comments
  • silhouette oil pumps
    Minyak kembali menguat menuju US$ 58 per barel Minyak kembali menguat menuju US$ 58 per barel

    Minyak kembali menguat menuju US$ 58 per barel

Minyak kembali menguat menuju US$ 58 per barel

Harga minyak kembali menguat menuju US$ 58 per barel setelah data industri menunjukkan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) turun di minggu keempat.

Mengutip Bloomberg, Rabu (13/12) pukul 15.26 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) kontrak pengiriman Januari 2018 di New York Mercantile Exchange menguat 0,91% ke level US$ 57,66 per barel dibanding sehari sebelumnya setelah jatuh 1,5% pada Selasa (12/12).

American Petroleum Institute (API) melaporkan persediaan minyak AS pekan lalu turun 7,38 juta barel. Sementara data resmi dari pemerintah akan dirilis malam ini dengan proyeksi cadangan minyak AS akan turun.

Dalam pernyataannya, API menyebut International Energy Agency (IEA) tidak perlu bertindak setelah adanya penutupan jaringan pipa Laut Utara karena pasokan di pasar masih cukup.

Minyak menuju kenaikan tahunan kedua setelah organisasi negara pengekspor yang tergabung dalam OPEC serta Rusia sepakat memperpanjang pembatasan produksi hingga akhir 2018. Sementara dalam laporan bulanannya, Energy Information Administration (EIA) menyatakan, output minyak AS tahun depan akan mencapai rata-rata 10,02 juta barel per hari, atau di atas proyeksi pada November lalu yakni 9,95 juta barel per hari.

“Kita sedang berada pada rentang dimana kita berharap harga akan stabil tahun depan,” kata Daniel Hynes, seorang analis di Australia & New Zealand Banking Group Ltd. di Sydney kepada Bloomberg.

Menurut perkiraan median dalam survei Bloomberg, stok minyak mentah AS mungkin turun sebesar 2,89 juta barel pekan lalu, sebelum laporan EIA malam ini (13/12). Persediaan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk minyak WTI dan pusat penyimpanan minyak AS terbesar, kemungkinan turun 2,5 juta barel.

By |December 13, 2017 11:18 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • FILE PHOTO: A businessman looks at a screen displaying a photo of U.S. 100 dollar bank notes in Tokyo
    Bank sentral di Asia tak akan mengekor The Fed? Bank sentral di Asia tak akan mengekor The Fed?

    Bank sentral di Asia tak akan mengekor The Fed?

Bank sentral di Asia tak akan mengekor The Fed?

Bank sentral di Asia diperkirakan tak serta merta tertular kenaikan bunga, setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve menerapkan kenaikan. Malah, langkah bank sentral di Asia bakal penuh kehati-hatian.

Penyebabnya adalah bunga murah yang disediakan bank-bank sentral di Asia kini telah mengasilkan utang yang subur di kawasan. Jika mengikuti langkah pengetatan moneter seperti AS atau kenaikan bunga seperti yang dilakukan bank sentral Korea Selatan, tumpukan utang akan membengkak.

Korea Selatan yang menaikkan bunganya pada 30 November lalu mencatat pembengkakkan utang rumah tangga sampai 150% dari pendapatan. Bahkan lebih besar, yaitu 194% di Australia yang akhirnya membiarkan bunga bertahan di level terendah 1,5% pada 5 Desember lalu.

Bank of Korea menghitung, mengingat 70% kredit rumah tangga (household loan) dari lembaga keuangannya membebankan bunga floating, kenaikan bunga 25 basis poin akan mengerek utang sektor ini sebesar KRW 2,3 triliun per tahun, berbanding KRW 1,4 triliun pada September lalu.

The Fed AS diperkirakan akan menaikkan bunga pada pekan ini, lalu tiga kali pada tahun depan. Dengan langkah AS ini, kesetiaan investor pada aset Asia akan diuji dan menyulut keinginan bank sentral negara lain ikut menaikkan bunga untuk mempertahankan dana asing.

“Utang di Asia yang besar membuatnya terpapar penyesuaian risiko kredit global, kemungkinan akan terkejut dengan inflasi,” kata Ekonom Nomura Holdings Inc, Rob Subbaraman pada Bloomberg.

Tidak semua bank sentral kawasan akan menaikkan bunga. Tapi, kemungkinan besar, di negara-negara dengan rasio utang rumah tangga relatif rendah, seperti Filipina, bank sentralnya paling agresif ikut menaikkan bunga tahun depan. Prediksi Subbaraman, kenaikannya sampai empat kali pada 2018.

Tapi seperti Jepang, salah satu negara dengan rasio utang terbesar, hanya segelintir ekonom yang melihat kemungkinan Bank of Japan akan melakukan pengetatan moneter. Stimulus yang selama ini digelontorkan untuk mengejar target inflasi 2%, telah […]

By |December 13, 2017 6:14 am|Bisnis & Ekonomi|0 Comments
  • RUPIAH2
    Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok

    Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok

Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok

Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat berpeluang menguat pada perdagangan Jumat (8/12) besok. Tapi dengan syarat, data cadangan devisa yang dirilis pemerintah besok mencatatkan hasil yang positif.

Analis Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto menyebut, fundamental dalam negeri yang stabil membuat nilai cadangan devisa Indonesia untuk bulan November berpeluang naik.

Sekadar info, bulan Oktober lalu, nilai cadangan devisa Indonesia berjumlah US$ 126,5 miliar. Angka ini sebenarnya lebih kecil bila dibandingkan perolehan pada bulan sebelumnya senilai US$ 129,4 miliar.

Jika kenaikan cadangan devisa terealisasi, maka hal itu akan sangat membantu pergerakan rupiah di tengah derasnya sentimen eksternal.

Pasalnya, selain menghadapi imbas disetujuinya rancangan UU reformasi pajak AS, arah pergerakan rupiah juga ditentukan oleh isu kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve.

Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi sentimen eksternal yang mempengaruhi rupiah dalam beberapa hari ke depan. Hal ini seiring kabar diakuinya Jerusalem sebagai Ibukota Israel oleh Presiden Donald Trump.

“Hasil rilis data tenaga kerja AS malam nanti juga bisa berimbas pada rupiah,” tambah Andri, Kamis (7/12).

Prediksi Andri, kurs rupiah terhadap dollar AS akan berada di kisaran Rp 13.560—Rp 13.520 pada perdangangan esok hari (8/12).

Adapun pada hari ini, rupiah ditutup melemah 0,05% ke level Rp 13.554 per dollar AS di pasar spot. Sedangkan kurs tengah rupiah di Bank Indonesia terkoreksi 0,20% ke level Rp 13.552 per dollar AS.
sumber kontan.co.id

By |December 7, 2017 8:23 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • Bitcoin (virtual currency) coins placed on Dollar banknotes are seen in this illustration picture
    Market cryptocurrency lebih bernilai dari JPMorgan Market cryptocurrency lebih bernilai dari JPMorgan

    Market cryptocurrency lebih bernilai dari JPMorgan

Market cryptocurrency lebih bernilai dari JPMorgan

Total nilai pasar (market value) cryptocurrency naik tipis ke rekor tertinggi lainnya pada Rabu (6/12). Yang mengejutkan, nilainya berhasil melampaui market value bank terbesar Amerika Serikat JPMorgan.

Berdasarkan data Coinmarketcap, kapitalisasi pasar gabungan semua mata uang digital mencapai titik tertinggi sepanjang masa, yakni lebih dari US$ 370 miliar sekitar pukul 06.50 pagi waktu London. Angka ini didapat dengan mengalikan harga cryptocurrency dengan total volume mata uang digital yang beredar.

Kondisi itu menyebabkan market value cryptocurrency melampaui JPMorgan, yang saat ini mencapai US$ 366,8 miliar. Jamie Dimon, kepala eksekutif JPMorgan, telah menjadi tokoh pengkritik negatif tentang bitcoin, cryptocurrency terbesar dunia. Dimon menyebut bitcoin sebuah “penipuan” yang pada akhirnya akan “meledak.”

Informasi saja, harga bitcoin melonjak di atas US$ 12.000 untuk pertama kalinya pada hari Rabu, sehingga mengangkat seluruh pasar. Para pengamat percaya lebih banyak uang institusional akan mengalir ke bitcoin karena saat ini tengah dipersiapkan sejumlah transaksi perdagangan derivatif untuk memperkenalkan kontrak futures mata uang digital.

Kontrak berjangka memungkinkan para pedagang untuk menyetujui pembelian atau penjualan aset dengan harga yang telah ditentukan di kemudian hari. Hal ini memungkinkan spekulasi pergerakan harga dan lindung nilai, sesuatu yang diyakini oleh para pendukung akan mengurangi volatilitas pada bitcoin, yang notabene merupakan aset yang sangat volatil.

Mata uang digital lainnya, IOTA, juga mengalami tren kenaikan di pasar cryptocurrency. IOTA mencapai level harga US$ 5 untuk pertama kalinya pada hari Rabu, setelah naik lebih dari 90% dalam 24 jam terakhir, dan menggeser XRP milik Ripple sebagai kripto keempat terbesar di dunia. IOTA mulai rally awal pekan ini menyusul pengumuman kemitraan antara jaringan blockchain dan perusahaan teknologi besar termasuk Microsoft dan Samsung.
sumber kontan.co.id

By |December 7, 2017 8:19 pm|Bisnis & Ekonomi|0 Comments
  • European union concept, digital illustration.
    Uni Eropa terbitkan daftar hitam surga pajak Uni Eropa terbitkan daftar hitam surga pajak

    Uni Eropa terbitkan daftar hitam surga pajak

Uni Eropa terbitkan daftar hitam surga pajak

Uni Eropa telah menerbitkan daftar hitam pertama surga pajak, dengan menyebut 17 wilayah termasuk Saint Lucia, Barbados dan Korea Selatan.

Selain itu, Uni Eropa juga merilis “daftar pantauan” atas 47 negara yang menjanjikan untuk perubahan peraturan pajak mereka sehingga bisa memenuhi standar Uni Eropa.

“Daftar abu-abu” juga mencakup beberapa hubungan dengan Inggris, termasuk Hong Kong, Jersey, Bermuda, Kepulauan Cayman, Swiss dan Turki.

Namun, kedua daftar hitam tersebut telah dikritik karena mengabaikan surga pajak yang paling terkenal.

Dirilisnya daftar tersebut mengikuti bocoran Panama Papers dan Paradise Papers, yang mengungkapkan bagaimana perusahaan dan individu menyembunyikan kekayaan mereka dari otoritas pajak di seluruh dunia dalam rekening di luar negeri.

Komisaris pajak Uni Eropa Pierre Moscovici mengatakan, daftar hitam tersebut mewakili “kemajuan substansial” di Eropa. “Keberadaan daftar ini merupakan langkah maju yang penting, namun karena ini merupakan daftar UE yang pertama, tetap saja hal ini merupakan respons yang kurang memadai terhadap skala penghindaran pajak di seluruh dunia,” jelasnya.

Untuk menentukan apakah sebuah negara adalah “yurisdiksi yang tidak kooperatif”, indeks Uni Eropa mengukur transparansi rezim pajak, tarif pajak dan apakah sistem pajak mendorong perusahaan multinasional untuk mengubah secara tidak adil keuntungan yang didapat menjadi rezim pajak rendah untuk menghindari pajak yang lebih tinggi di negara lain. Secara khusus, ini termasuk sistem pajak yang menawarkan insentif pajak perusahaan 0% kepada perusahaan asing.

Anggota Uni Eropa telah diberikan kebebasan untuk memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan terhadap pelanggar hukum tersebut. Para menteri membuat aturan untuk transaksi pemotongan pajak hingga bebas pajak serta sanksi keuangan lainnya.

Menurut Wakil Presiden Komisi Uni Eropa Valdis Dombrovskis, beberapa negara, seperti Luksemburg dan Malta, menentang diberlakukannya sanksi yang lebih ketat. “Tindakan penanggulangan yang lebih ketat pasti lebih baik,” jelasnya.

Panama adalah satu dari 17 negara yang termasuk dalam daftar oleh Uni Eropa. Namun Presiden Panama […]

By |December 7, 2017 4:43 am|Bisnis & Ekonomi|0 Comments
  • as oil
    Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig

    Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig

Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig

Harga minyak turun hari ini setelah pengebor shale AS menambahkan lebih banyak rig, pekan lalu. Meski begitu harga tidak bergerak jauh dari titik tertinggi sejak pertengahan 2015. Perpanjangan masa pemangkasan produksi yang disepakati oleh OPEC dan produsen lain membantu mempertahankan harga minyak.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,3 persen, pada US$ 58,15 per barel. Adapun harga Brent turun di US$ 63,51 per barel.

Pengebor di Amerika Serikat (AS) telah menambahkan dua rig minyak, sehingga jumlah totalnya menjadi 749. Ini merupakan jumlah rig terbanyak selama sejak September 2017 lalu, menurut catatan perusahaan jasa energi Baker Hughes dalam sebuah laporan yang dikutip Reuters.

Jumlah rig AS yang biasa menjadi indikator awal produksi minyak di masa mendatang, meningkat sangat tajam selama setahun terakhir. Tahun lalu baru terdapat 477 rig aktif. Penambahan jumlah rig ini sejalan dengan langkah perusahaan-perusahaan energi di AS mendorong produksi tahun ini.

Para pengebor minyak didorong menambah produksi karena harga minyak mentah mulai pulih dari jatuhnya harga dua tahun. Tren harga yang meningkat ini tak lepas dari strategi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa produsen non-OPEC, termasuk Rusia, untuk memotong produksi sejak setahun yang lalu.

Nah, Kamis lalu, negara-negara produsen minyak itu setuju untuk memperpanjang penurunan produksi yang mestinya berakhir Maret 2018 mendatang. Pemangkasan produksi untuk menahan volume di sekitar 1,8 juta barel per hari itu akan berlanjut sampai akhir tahun 2018.

Namun, kali ini, kesepakatan terakhir itu memungkinkan produsen keluar lebih awal jika pasar minyak terlalu panas. Rusia, misalnya, telah menyatakan kekhawatirannya bahwa memperpanjang pemotongan produksi justru mendorong perusahaan energi AS memompa lebih banyak minyak mentah.

Meningkatnya produksi minyak oleh AS memang telah menjadi duri yang membuat perih OPEC. Produksi AS naik menjadi 9,5 juta barel per hari pada bulan September 2017 lalu. Ini merupakan […]

By |December 4, 2017 9:56 am|Laporan Pasar|0 Comments