Laporan Pasar

  • RUPIAH2
    Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok

    Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok

Rupiah berpeluang menguat berkat data cadev besok

Kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat berpeluang menguat pada perdagangan Jumat (8/12) besok. Tapi dengan syarat, data cadangan devisa yang dirilis pemerintah besok mencatatkan hasil yang positif.

Analis Asia Tradepoint Futures, Andri Hardianto menyebut, fundamental dalam negeri yang stabil membuat nilai cadangan devisa Indonesia untuk bulan November berpeluang naik.

Sekadar info, bulan Oktober lalu, nilai cadangan devisa Indonesia berjumlah US$ 126,5 miliar. Angka ini sebenarnya lebih kecil bila dibandingkan perolehan pada bulan sebelumnya senilai US$ 129,4 miliar.

Jika kenaikan cadangan devisa terealisasi, maka hal itu akan sangat membantu pergerakan rupiah di tengah derasnya sentimen eksternal.

Pasalnya, selain menghadapi imbas disetujuinya rancangan UU reformasi pajak AS, arah pergerakan rupiah juga ditentukan oleh isu kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve.

Perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi sentimen eksternal yang mempengaruhi rupiah dalam beberapa hari ke depan. Hal ini seiring kabar diakuinya Jerusalem sebagai Ibukota Israel oleh Presiden Donald Trump.

“Hasil rilis data tenaga kerja AS malam nanti juga bisa berimbas pada rupiah,” tambah Andri, Kamis (7/12).

Prediksi Andri, kurs rupiah terhadap dollar AS akan berada di kisaran Rp 13.560—Rp 13.520 pada perdangangan esok hari (8/12).

Adapun pada hari ini, rupiah ditutup melemah 0,05% ke level Rp 13.554 per dollar AS di pasar spot. Sedangkan kurs tengah rupiah di Bank Indonesia terkoreksi 0,20% ke level Rp 13.552 per dollar AS.
sumber kontan.co.id

By |December 7, 2017 8:23 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • as oil
    Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig

    Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig

Harga minyak turun akibat AS menambah jumlah rig

Harga minyak turun hari ini setelah pengebor shale AS menambahkan lebih banyak rig, pekan lalu. Meski begitu harga tidak bergerak jauh dari titik tertinggi sejak pertengahan 2015. Perpanjangan masa pemangkasan produksi yang disepakati oleh OPEC dan produsen lain membantu mempertahankan harga minyak.

Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) AS turun 0,3 persen, pada US$ 58,15 per barel. Adapun harga Brent turun di US$ 63,51 per barel.

Pengebor di Amerika Serikat (AS) telah menambahkan dua rig minyak, sehingga jumlah totalnya menjadi 749. Ini merupakan jumlah rig terbanyak selama sejak September 2017 lalu, menurut catatan perusahaan jasa energi Baker Hughes dalam sebuah laporan yang dikutip Reuters.

Jumlah rig AS yang biasa menjadi indikator awal produksi minyak di masa mendatang, meningkat sangat tajam selama setahun terakhir. Tahun lalu baru terdapat 477 rig aktif. Penambahan jumlah rig ini sejalan dengan langkah perusahaan-perusahaan energi di AS mendorong produksi tahun ini.

Para pengebor minyak didorong menambah produksi karena harga minyak mentah mulai pulih dari jatuhnya harga dua tahun. Tren harga yang meningkat ini tak lepas dari strategi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan beberapa produsen non-OPEC, termasuk Rusia, untuk memotong produksi sejak setahun yang lalu.

Nah, Kamis lalu, negara-negara produsen minyak itu setuju untuk memperpanjang penurunan produksi yang mestinya berakhir Maret 2018 mendatang. Pemangkasan produksi untuk menahan volume di sekitar 1,8 juta barel per hari itu akan berlanjut sampai akhir tahun 2018.

Namun, kali ini, kesepakatan terakhir itu memungkinkan produsen keluar lebih awal jika pasar minyak terlalu panas. Rusia, misalnya, telah menyatakan kekhawatirannya bahwa memperpanjang pemotongan produksi justru mendorong perusahaan energi AS memompa lebih banyak minyak mentah.

Meningkatnya produksi minyak oleh AS memang telah menjadi duri yang membuat perih OPEC. Produksi AS naik menjadi 9,5 juta barel per hari pada bulan September 2017 lalu. Ini merupakan […]

By |December 4, 2017 9:56 am|Laporan Pasar|0 Comments
  • RUPIAH2
    Rupiah melemah Rupiah melemah

    Rupiah melemah

Rupiah melemah

Rupiah terhadap dollar AS di pasar spot, Senin (27/11). Pelemahan rupiah terjadi meski posisi the greenback juga kurang solid.

Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 17 poin ke level Rp 13.521 per dollar AS pada pukul 10.49 WIB.

Sementara, indeks dollar AS stabil di posisi 92,78 sejak akhir pekan lalu. Dollar masih mendekati level terendah dua bulan terhadap sekeranjang mata uang utama.

Data ekonomi Negeri Paman Sam yang tak sesuai prediksi masih membuat dollar AS lesu. Pasar juga menantikan keberlanjutan reformasi pajak. Presiden Donald Trump akan bertemu dengan anggota Senat pada pekan ini untuk membahas persetujuan undang-undang perpajakan. Meski sudah lolos dari DPR, namun Trump butuh persetujuan dari Senat agar UU tersebut bisa terbit.

Meski demikian, dari domestik, masih minim katalis yang bisa mendongkrak rupiah.

Pelemahan mata uang Garuda juga seirama dengan mayoritas mata uang Asia. Valuasi ringgit Malaysia, baht Thailand, dollar Singapura, hingga won Korea melemah versus the greenback. Hanya, yen Jepang dan dollar Hong Kong yang unggul terhadap dollar AS

By |November 27, 2017 5:02 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • RUPIAH2
    Rupiah Menguat Rupiah Menguat

    Rupiah Menguat

Rupiah Menguat

Nilai tukar rupiah menguat tipis pada perdagangan Rabu (22/11). Di pasar spot pada pukul 10.11 WIB, nilai tukar rupiah berada di angka Rp 13.524 per dollar Amerika Serikat (AS).

Angka ini menguat tipis ketimbang posisi hari sebelumnya pada Rp 13.529 per dollar AS. Penguatan kurs rupiah terhadap dollar ini bersamaan dengan penguatan sebagian mata uang kawasan Asia.

Sementara itu, indeks dollar menunjukkan penurunan dalam dua hari terakhir. Hari ini, indeks dollar kembali turun ke bawah level 94. Nilai tukar dollar AS diramal cenderung tertekan hingga ada rilis notulen rapat bank sentral AS hari ini.

Pada kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah menguat ke Rp 13.523 per dollar dari level sebelumnya Rp 13.544 per dollar AS.

By |November 22, 2017 3:57 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • Nilai Tukar Rupiah
    Rupiah Stagnan Rupiah Stagnan

    Rupiah Stagnan

Rupiah Stagnan

Dalam pergerakan pasar uang Selasa pagi dan siang ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) terpantau stagnan, sementara dollar AS hari ini terpantau di level satu minggu tertingginya namun dalam perdagangan yang tipis di pasar global. Rupiah terhadap dollar AS pagi dan siang hari WIB ini terlihat stabil di level Rp 13.533 dibandingkan posisi penutupan perdagangan Senin lalu di Rp 13.533 (21/11).

Analis Vibiznews melihat untuk hari ini perdagangan rupiah vs dollar terlihat dibuka stabil di Rp 13.531, kemudian bergerak lambat ke 13.533, dan terakhir terlihat masih di posisi Rp 13.533. Stabilnya rupiah nampaknya karena dollar yang dalam peradagangan yang tipis hari ini menjelang libur Thanksgiving Day hari Kamis.

Indeks dollar, yang mengukur dollar terhadap keranjang enam mata uang saingan utamanya, siang ini stabil di level 94,06, dibandingkan level penutupan sesi kemarin di 94,07. Dollar tetap di level seminggu tertingginya karena pelemahan euro oleh concern investor akan masa depan politik zona Eropa.

By |November 21, 2017 3:28 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • oil up
    Harga Minyak Panas Dingin Jelang Pertemuan OPEC Harga Minyak Panas Dingin Jelang Pertemuan OPEC

    Harga Minyak Panas Dingin Jelang Pertemuan OPEC

Harga Minyak Panas Dingin Jelang Pertemuan OPEC

Pasar minyak mentah pada perdagangan Senin (20/11/2017) dibuka variatif, karena pedagang enggan mengambil posisi menjelang pertemuan OPEC di Wina, Austria, pada akhir November ini. Rapat klub produsen minyak ini untuk menentukan apakah akan melanjutkan pengurangan produksi demi menopang harga si emas hitam atau tidak.

Melansir dari Reuters, harga minyak mentah Brent International turun 26 sen atau 0,4% ke level USD62,46 per barel pada pukul 00:52 GMT. Sementara harga minyak berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) naik 2 sen menjadi USD56,57 per barel.

Pedagang mengatakan bahwa mereka menghindari posisi baru yang besar karena ketidakpastian di pasar. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), bersama dengan sekelompok produsen non-OPEC yang dipimpin Rusia, telah menahan produksi sejak awal tahun ini dalam upaya mengakhiri kelebihan pasokan global demi melambungkan harga.

Kesepakatan untuk mengekang produksi minyak akan berakhir pada Maret 2018, namun OPEC akan bertemu pada 30 November untuk membahas prospek kebijakan tersebut. Banyak kalangan menilai OPEC akan memperpanjang pemotongan produksi, karena sejauh ini mereka menilai pasokan minyak dunia masih melimpah. Namun upaya untuk memperpanjang pemangkasan produksi sangat diragukan, karena tidak semua anggota mau untuk menggerus produksinya.

Kepala Strategi Pasar di AxiTrader, Greg McKenna memberi catatan bahwa tidak semua anggota ingin memperpanjang pemangkasan produksi minyaknya. “Perlu dicatat bahwa ada komunitas spekulatif dalam pasar minyak,” ujarnya. Namun ANZ Bank menyatakan investor harus tetap waspada terhadap berita tentang langkah OPEC untuk memperpanjang pengurangan produksi.

By |November 20, 2017 3:23 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • as oil
    Minyak Masih Flat, Dibayangi Isu Oversupply Minyak Masih Flat, Dibayangi Isu Oversupply

    Minyak Masih Flat, Dibayangi Isu Oversupply

Minyak Masih Flat, Dibayangi Isu Oversupply

Setelah mengalami kejatuhan harian terbesarnya dalam dua bulan, harga minyak flat dalam tiga sesi terakhir di tengah mencuatnya kembali isu pasokan berlimpah.

Harga terus tertekan karena bertambahnya pasokan AS, yang terus menggenjot produksi. Setelah sempat terganggu karena badai, produksi minyak AS kembali aktif. Output AS mencapai 9,65 juta barel per hari (bph) sepanjang Nopember, berarti naik 15% dari 2016. Data dari Energy Information Administration (EIA) Rabu lalu menunjukkan cadangan AS bertambah 1,9 juta barel minggu lalu.

Bahkan produksi AS diperkirakan semakin tinggi di masa mendatang. International Energy Agency (IEA) memproyeksikan AS menyumbang 80% pertumbuhan produksi minyak global dalam 10 tahun ke depan dan akan memproduksi 30% lebih banyak gas dari Rusia. Lembaga tersebut juga mengatakan AS, yang industri energinya mengalami kebangkitan berkat teknologi fracking, akan menjadi jawara energi global.

Tekanan ke harga juga datang dari munculnya keraguan Rusia akan mendukung kelanjutan kesepakatan pemangkasan. Menurut sumber anonim, Rusia berpandangan masih terlalu dini untuk mengumumkan perpanjangan kesepakatan dalam pertemuan OPEC akhir bulan nanti. Grup tersebut akan menggelar pertemuan reguler pada 30 Nopember nanti di Wina, Austria untuk membahas kelanjutan kesepakatan. OPEC harus meyakinkan Rusia perpanjangan diperlukan untuk menjaga keseimbangan pasar.

Pada jam 16:15 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Desember naik 25 sen ke $55,50 per barel. Dalam tiga sesi terakhir, harga terjebak dalam range sempit setelah anjlok 2% Selasa lalu. Harga sedang menuju penurunan mingguan pertama dalam 6 pekan. Bila ditutup di bawah $54,70, harga terancam menuju 54,20-54,00.

By |November 17, 2017 4:49 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • oil down
    Harga minyak jatuh tiga hari beruntun Harga minyak jatuh tiga hari beruntun

    Harga minyak jatuh tiga hari beruntun

Harga minyak jatuh tiga hari beruntun

Harga minyak dunia kembali turun di pasar Amerika Serikat, Rabu (15/11). Sinyal perlambatan permintaan dan kenaikan produksi di AS menekan harga minyak.

Mengutip Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember 2017 di Nymex ditutup turun 0,66% menjadi US$ 55,33 per barel. Harga minyak sudah terkoreksi tiga hari beruntun.

Di pasar Asia, Kamis (16/11), minyak WTI lanjtu terkoreksi ke level US$ 55,28 sebarel pukul 07.03 WIB.

Aksi jual berlanjut setelah kenaikan stok minyak mentah dan bensin di AS yang tidak terduga. Badan Informasi Energi AS (EIA) merilis persediaan minyak mentah naik 1,9 juta barel menjadi 459,0 juta barel per pekan yang berakhir 10 November. Angka ini melampaui ekspektasi pasar.

Data ini semakin melemahkan sentimen pasar. Sebab, sebelumnya, pasar sudah cemas dengan sinyal perlambatan permintaan yang diungkapkan Badan Energi Internasional (IEA). Selasa lalu, EIA memangkas proyeksi permintaan minyak sebesar 100.000 barel per hari (bph) menjadi sekitar 1,5 juta bph pada 2017 dan 1,3 juta barel bph pada 2018.

Belum lagi, produksi minyak AS diperkirakan meningkat, sehingga mengimbangi upaya Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia yang tengah gencar memangkas produksi minyak.

Produksi minyak di negeri Paman Sam telah melonjak lebih dari 14% sejak pertengahan 2016 hingga 9,65 juta bph dan diperkirakan akan tumbuh lebih jauh. IEA mengatakan produksi minyak non-OPEC akan meningkat 1,4 juta bph pada 2018, sehingga merongrong upaya OPEC dan sekutunya untuk mengurangi pasokan minyak mentah di pasar global.

OPEC akan bertemu pada 30 November di Wina, dan diperkirakan akan menyetujui perpanjangan pemotongan produksi. “Negara-negara yang berpartisipasi dalam kesepakatan itu perlu merumuskan strategi karena output minyak di AS terus meningkat,” kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energys Global Gas Analytics seperti dilansir CNBC, Kamis.

By |November 16, 2017 5:39 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • Nilai Tukar Rupiah
    Rupiah Naik tipis atas dollar AS Rupiah Naik tipis atas dollar AS

    Rupiah Naik tipis atas dollar AS

Rupiah Naik tipis atas dollar AS

Nilai tukar rupiah menguat tipis 0,01% ke level Rp 13.551 per dollar Amerika Serikat (AS) di pasar spot, Selasa (14/11). Kurs tengah rupiah Bank Indonesia (BI) juga menunjukkan penguatan nilai tukar rupiah 0,09% ke level Rp 13.542 per dollar AS.

Pergerakan dollar AS terhadap mayoritas mata uang global cenderung stagnan. Pasalnya, belum ada sentimen positif yang mampu mendorong gerak dollar AS di perdagangan.

Untuk sementara ini perkembangan isu seputar kenaikan suku bunga Federal Reserve dan rencana reformasi pajak oleh Presiden Donald Trump tidak berdampak signifikan terhadap kinerja dollar AS. Pasar sudah mulai menyesuaikan diri dengan kebijakan-kebijakan tersebut.

Di sisi lain, rupiah juga sebenarnya tidak mendapat sentimen berarti dari dalam negeri. Alhasil, penguatan rupiah cenderung terbatas hingga penutupan pasar.

Pergerakan rupiah masih cenderung terbatas pada perdagangan, Rabu (15/11). Penguatan terhadap rupiah baru akan terjadi jika rilis data ekspor-impor Indonesia esok hari menunjukkan hasil positif.

Namun, potensi penguatan tersebut dapat teredam jika data inflasi yang dirilis pemerintah AS di hari yang sama juga memperlihatkan hasil yang positif.

By |November 14, 2017 5:59 pm|Laporan Pasar|0 Comments
  • Nilai Tukar Rupiah
    Rupiah Menguat Rupiah Menguat

    Rupiah Menguat

Rupiah Menguat

Nilai tukar rupiah cenderung menguat pada KAmis (9/11). Di kurs tengah Bank Indonesia (BI), nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 13.514 per dollar Amerika Serikat (AS).

Kemarin, kurs rupiah di BI berada di level Rp 23.534 per dollar AS. Sedangkan di pasar spot, nilai tukar rupiah justru melemah.

Pada pukul 10.06 WIB kurs rupiah sebesar Rp 13.516 per dollar AS di pasar spot. Angka ini melemah tipis ketimbang kemarin di level Rp 13.514 per dollar.

Asal tahu saja, pagi kemarin, nilai tukar rupiah di pasar spot sempat melemah. Tapi, kurs semakin kuat pada penutupan perdagangan sore hari.

Pelemahan tipis nilai tukar rupiah di pasar spot ini sejalan dengan pelemahan kurs dollar Singapura dan yen Jepang terhadap dollar AS. Sebagian besar mata uang Asia hari ini menguat.

Hari ini, Malaysia dan Filipina akan menentukan suku bunga acuan. Kemarin, bank sentral Thailand menahan suku bunga acuan di level 1,5%.

By |November 9, 2017 4:44 pm|Laporan Pasar|0 Comments