Ketika Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga, reaksi pasar saham naik, imbal hasil obligasi jatuh dan penurunan dolar AS terhadap mata uang utama dunia, yang menurut banyak analis merupakan reaksi yang kurang tepat. Yang dalam penjelasannya, bank sentral AS, dengan meningkatkan suku bunga acuan, adalah mencoba untuk memperketat beberapa hal, meski sedikit. Sebaliknya, para analis  menggunakan ukuran kondisi keuangan untuk melihat ‘hal’ yang sebenarnya; dampak kenaikan suku bunga sebenarnya, tapi hasilnya: Investor mungkin meremehkan seberapa cepat Fed dapat mengantisipasi dampak fiskal yang akan terjadi di masa depan.

Mereka (The Fed) tidak bertujuan untuk melakukan pelonggaran besar dalam kondisi keuangan, titik utama dari tarif hiking malah sebaliknya, untuk memperketat kondisi keuangan, tidak dalam waktu dekat tapi secara bertahap, ini mengapa dollar AS tertekan cukup signifikan dan mengalir ekuitasnya ke saham dan komoditi. Selain itu EUR juga menguat karena hasil pemilu Belanda, Kamis, setelah Perdana Menteri tengah-kanan Mark Rutte berhasil menangkis tantangan serius dari nasionalis sayap kanan Geert Wilder, namun perjalanan masihlah panjang.

Kesimpulannya naiknya suku bunga AS belumlah menjadi ‘obat kuat’ untuk perekonomian AS yang masih terganjal oleh ‘urusan’ fiskal mereka, jadi pemerintahan trump masih memiliki pekerjaan rumah yang berat mengenai fiskal, yang menurut para pelaku pasar masih “mengambang” kebijakannya, ini yang membuat kerancuan akan masa depan ekonomi AS, apakah akan memasuki krisis baru? apa sudah?