Strategydesk – Dollar jatuh ke level terendah dalam 1,5 bulan karena munculnya keraguan di pasar bahwa pemerintahan Trump dapat segera melaksanakan agenda utamanya. Sedangkan sterling melesat karena data inflasi Inggris.
Dollar semakin jatuh setelah Presiden Trump gagal meyakinkan beberapa anggota Republik untuk mencabut Obamacare dan menggantinya dengan sistem baru. Terganjalnya RUU kesehatan yang diajukan Presiden Trump di Kongres itu, menimbulkan keraguan mengenai agenda pemerintahan Trump lainnya seperti pemotongan pajak dan stimulus fiskal.
Dollar tetap tertekan meski ada pejabat the Fed yang menyampaikan pernyataan yang hawkish. Presiden the Fed distrik Cleveland Loretta Mester memprediksikan kenaikan suku bunga bisa lebih dari tiga kali karena ekonomi lebih baik dari yang diharapkan. Sedangkan presiden distrik Kansas City Esther George mengatakan sudah saatnya the Fed mengurangi akomodasi dalam kebijakannya. Pasar kini menunggu pidato sang ketua Janet Yellen besok.
Indeks dollar berada di 99,78 setelah turun 0,6% kemarin. Penutupan di bawah 99,60 menjadi jalan menuju 99,50-99,40. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 111,65 setelah melemah 0,5% kemarin. Atas franc, dollar diperdagangkan di 0.9940 setelah jatuh 0,5%.
Sementara itu, sterling reli berkat data inflasi Inggris yang lebih tinggi dari prediksi. Inflasi Inggris naik 2,3% selama Februari, di atas prediksi 2,1%. Sedangkan inflasi inti naik 2,0%, melebihi prediksi 1,7%. Data ini mendukung ekspektasi BOE bisa menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Sterling diperdagangkan di $1,2476 setelah naik 1% kemarin.

EURUSD

EURUSD 22 Mar

USDJPY

USDJPY 22 Mar

GBPUSD

GBPUSD 22 Mar

USDCHF

USDCHF 22 Mar

AUDUSD

AUDUSD

By |2018-07-21T22:02:55+00:00March 22nd, 2017|Analisa|0 Comments

Leave A Comment