Raoul Pal, mantan manager pendanaan dari perusahaan Goldman Sachs GLG, mengatakan ia melihat sesuatu yang muncul dalam minyak yang harus memberikan investor kesempatan besar setelah perdagangan hadiah itu sendiri yang selalu menjadi keunggulan Pal dimata para investor. Tahun ini Raoul memprediksi minyak bisa turun hingga $30 per barel. Ia melihat ada “shenanigans” dalam hubungan Arab Saudi dengan pihak perusahaan fund manager. Resiko utama akan terfokus pada posisi beli besar untuk spekulatif jangka panjang.

“Saya pikir sesuatu yang benar-benar besar adalah menyatunya semua pemilik minyak dan mungkin belum siap karena perdagangan, tapi saya melihat posisi lama spekulatif dalam situasi minyak mirip dengan yang terjadi pada 2014,” kata Pal dalam sebuah wawancara dengan Yahoo Finance.

Pada tahun 2014 Pal memprediksi runtuhnya harga minyak, mengatakan akan turun menjadi $ 40 per barel, yang itu. Sekali lagi ia dilihat orang sebagai “pengambil taruhan besar.”

Awal tahun ini Pal mencatat dolar dan minyak telah bergerak “tandem” bersama-sama, sesuatu yang sudah langka secara historis. Saat itu ia mengatakan ketika dolar mulai putus itu akan memberikan tekanan ke bawah pada minyak. Dikombinasikan dengan catatan dari rekor yang tercatat, tentu akan memicu sell-off.

Dolar AS Harus Menguat

Meskipun jelas dollar bisa memperkuat dari faktor kenaikan suku bunga yang sedang berlangsung diharapkan hingga disisa 2017, itu tidak di mana Pal melihat dolar mendapatkan sebagian besar dukungannya.

Dia mengatakan ini:

“Ini ada hubungannya dengan kekuatan relatif ekonomi dan fakta dari dunia yang memiliki kekurangan dolar. Jadi ada alasan struktural seluruh mengapa dolar harus pergi lebih tinggi dan kebijakan Trump sangat pro-dolar. Ada satu hal yang jelas itu kebijakan yang sangat pro-dolar.”
Signifikansi yang berada di bawah skenario itu hampir selalu ada kasus bahwa harga minyak bergerak turun.