Strategydesk – Minyak naik tajam hari ini setelah AS meluncurkan rudal ke Suriah, yang dianggap menambah panas situasi geopolitik di Timur Tengah.

oilfieldAS tiba-tiba menembakkan rudal ke Suriah, setelah terjadi serangan gas. Pemerintah Bashar al Assad dituduh sebagai pelaku serangan gas sarin terhadap warga sipil. Sebanyak 80 orang tewas dalam serangan tersebut. Pasar terkejut dengan langkah AS tersebut, karena selama ini pemerintahan Trump terlihat enggan terlibat langsung dalam konflik Suriah.

Pemerintah Suriah membantah melakukan serangan tersebut, namun tidak menghentikan AS meluncurkan 60 rudal ke fasilitas militer Suriah. Pasar kini mempertanyakan bagaimana reaksi Rusia dan Iran, sekutu Suriah dan produsen minyak besar. Rusia mengatakan belum ada bukti pemerintah Assad yang melakukan serangan gas itu dan menyerukan penyelidikan internasional. Tapi Barat sudah yakin Assadlah pelakunya.

Minyak cenderung naik minggu ini meski data cadangan AS memperlihatkan kenaikan. Rabu lalu, Energy Information Administration (EIA) melaporkan cadangan minyak bertambah 1,5 juta barel. Minyak juga naik di tengah optimisme kesepakatan pemangkasan OPEC membuahkan hasil dalam menyeimbangkan pasar.

Pada jam 17:00 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Mei naik 86 sen ke $52,81 dengan sempat menyentuh $53,22 atau tertinggi dalam sebulan. Bila berhasil ditutup di atas $53,15, harga berpotensi menuju $53,50-53,90.