Strategydesk – Dollar jatuh ke level terendah dalam lima bulan atas yen karena data ekonomi AS dan meningkatnya ketegangan di Semenanjung Korea yang mengangkat pamor mata uang Jepang itu sebagai safe haven.
Dollar tertekan setelah data Jumat lalu menunjukkan inflasi AS melambat ke 2,4% selama Maret dari 2,7% di bulan sebelumnya. Inflasi inti, yang tidak memasukkan pangan dan energi, melambat ke 2,0% dari 2,2%. Angka inflasi yang lebih rendah dari prediksi ini mempengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Data lainnya, penjualan ritel As turun 0,2% selama Maret.
Isu geopolitik di Semenanjung Korea turut menekan dollar/yen. Korea Utara menguji rudal akhir pekan lalu tapi langsung meledak setelah peluncuran. Dengan merapatnya kapal induk AS di semenanjung tersebut, dan kunjungan Wakil Presiden AS Mike Pence ke Seoul, investor masih mengantisipasi eskalasi ketegangan.
Masih belum jelas apakah eskalasi menyebabkan aksi militer, tapi ketidakpastian ini membuat investor resah. Hal ini menambah aksi beli yen sebagai safe haven. Tapi sebagian pengamat berpandangan kedekatan Jepang dengan Semenanjung Korea bisa saja status safe haven itu bisa tergerus bila ketegangan antara Washington dan Pyongyang berubah menjadi konflik terbuka. Meski demikian, banyak yang masih menyangsikan hal itu terjadi.
Dollar juga belum pulih dari pernyataan Presiden Trump yang mengatakan mata uang AS itu sudah terlalu kuat dan ia menyukai kebijakan bunga rendah the Fed. Pasar menginterpretasikan pernyataan itu sebagai kebijakan Trump yang ingin dollar lemah. Indeks dollar bertengger di 100,39 atau turun 0,2% dari posisi akhir pekan lalu. Indeks bergerak antara 100-100,80. Terhadap yen, dollar melemah 0,3% ke 108,33 setelah melemah 0,3% akhir pekan lalu. Dollar sempat menyentuh low 108,12 atau terendah sejak Nopember.

EURUSD

EURUSD 17 Apr

 

USDJPY

USDJPY 17 Apr

GBPUSD

GBPUSD 17 Apr

USDCHF

USDCHF 17 Apr

AUDUSD

AUDUSD 17 Apr