Indeks dolar, diperdagangkan sampai ke level 100,47  dari terendahnya 100,01 dalam sesi perdagangan Asia pada Kamis pekan lalu, dan hanya menyentuh 100,50 pada sesi perdagangan AS. Yang pada awal pekan lalu masih dikisaran diatas 101, jatuh setelah Presiden Trump “mengeluh” dolar AS terlalu kuat di pasar currency. Semula bermula pada awal tahun 2017 dimana indeks dolar bermain di atas area 103.
Tanggapan pasar adalah merupakan kekecewaan dari kebijakan Trump dan pada saat yang sama, perekonomian di luar AS terlihat lebih baik, dan wajar kalau arus ekuitas beralih keluar AS, maka pasar memperkirakan kelanjutan dari pelemahan dollar. Ada yang berdalih bahwa pelemahan ini bukan berarti dolar AS mata uang yang lemah, tetapi nilai dolar terus meluncur karena pertimbangan perdagangan saja.

Pasar berharap “mid-single-digit decline” akibat dari pertimbangan perdagangan itu. Dan “tertuduh utama” dalam pertimbangan perdagangan tersebut adalah euro, Indeks dolar sangat “rentan” terhadap euro.
Pasar pun beralasan euro sudah sangat undervalued, ditambah dengan,
Bank Sentral Eropa merencanakan untuk membeli kembali obligasi senilai 60 miliar euro ditiap bulan sepanjang  tahun ini, tetapi banyak analis berharap program tersebut akan dihentikan tahun depan, atau bahkan lebih awal, jika ekonomi terus menunjukkan peningkatan.

Sementara, Federal Reserve AS yang tampaknya menjadi satu-satunya bank sentral utama di dunia yang siap untuk menaikkan suku bunganya, yang digadang gadang sebagai penarik untuk dolar, tapi kenaikan di bulan Maret tidak membawa hal yang positif untuk dolar AS, dan itu sudah menjadi bukti proses pelemahan dolar AS sudah berjalan.

Untuk mudahnya, pelemahan dolar AS dilihat dari perimbangan arus ekuitas di pasar mata uang dunia (mengatasnamakan ekonomi diluar AS jauh lebih baik), ekonomi Eropa makin membaik, dan “kemauan” pemerintahan Trump bahwa dolar AS terlalu kuat dan “harus” dilemahkan, tapi disisi lain secara kebijakan dan administratif pemerintahan Trump belum “kompak” dengan kongres. Ketiga hal diatas yang masih mendominasi sentimen pergerakan dolar AS sampai saat ini.