Strategydesk – Euro bergerak fluktuatif sepanjang minggu ini, dibayangi oleh isu politik dan teror. Sempat melesat di tengah meredanya kekhawatiran mengenai ketidakpastian politik Perancis, euro jatuh kembali karena aksi teror di negara itu.
Euro tertekan setelah terjadi aksi terorisme, di mana satu polisi tewas dan dua lainnya terluka setelah teroris mengeluarkan tembakan di Champs-Elysees, Paris. Isis mengaku bertanggung jawab dengan melepas pesan melalui kantor beritanya Amaq. Pelakunya terbunuh namun belum dipublikasikan identitasnya. Peristiwa ini terjadi menjelang pemilu presiden Perancis.
Euro sempat melaju kencang berkat hasil polling yang menunjukkan kandidat favorit pasar Emmanuel Macron masih memimpin. Pollin menunjukkan Macron akan memenangkan putaran pertama dengan suara 24%, diikuti oleh Marine Le Pen dengan 21,5%. Keduanya diperkirakan akan melaju ke putaran kedua.
Hasil yang mengejutkan dapat menggoyang pasar. Pasalnya, salah satu kandidatnya, Le Pen, berjanji akan keluar dari zona euro bila menang. Ia juga berikrar menggelar referendum seperti Inggris. Le Pen mengangap euro tidak bermanfaat untuk Perancis. Kemenangan Le Pen bisa berdampak buruk untuk euro karena dapat memberi efek bola salju. Banyak orang memandang tidak ada euro tanpa Perancis. Kalaupun nantinya ia mengurungkan niatnya keluar, kemenangannya tetap berpotensi menekan euro.
Euro diperdagangkan di $1,0717, level penutupan kemarin. Euro sempat melonjak sampai $1,0778 namun gagal mempertahankan penguatan. Menjelang pemilu Perancis, sepertinya banyak pelaku pasar yang menghindari pengambilan posisi besar, membuat euro ranging, kecuali ada insiden besar.

EURUSD

EURUSD 21 Apr

USDJPY

USDJPY 21 Apr

GBPUSD

GBPUSD 21 Apr

USDCHF

USDCHF 21 Apr

AUDUSD

AUDUSD 21 Apr