Strategydesk – Rupiah Stabil hari ini setelah mengalami tekanan kemarin akibat hasil pilkada DKI yang mengejutkan. Dampak hasil pilkada ini tidak akan lama dan rupiah masih menunjukkan stabilitasnya.

rupiahHasil pilkada Rabu lalu dimana sang petahana Basuki Cahaya Purnama-Djarot Saiful Hidayat kalah telak dengan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sempat membuat rupiah tertekan. Perbedaan capaian suara yang jauh mengejutkan banyak orang, karena polling mengindikasikan ketatnya persaingan. Investor dan media asing terkejut dengan hasil ini, mengingat tingkat approval rating tinggi yang selama ini dimiliki oleh Purnama atau Ahok.

Tapi hasil pilkada ini hanya mempengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek saja, tidak akan memberikan dampak panjang pada rupiah. Bank Indonesia memandang pilkada yang berjalan lancar dan aman memberi sentimen positif bagi pasar. Bahkan BI optimis konsumsi meningkat pasca pilkada

Pada dasarnya, selama tahun ini, rupiah masih menunjukkan stabilitasnya. Menurut BI, sepanjang kuartal pertama rupiah menguat 1,09%. Penguatan didukung oleh aliran dana asing yang masih deras. Di tengah cerahnya prospek investasi dalam negeri dan membaiknya ekonomi global, investasi asing terus masuk ke Indonesia. Aliran dana terutama masih ke saham dan Surat Utang Negara. Sepanjang 2017, capital inflow mencapai Rp79,1 triliun.

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tidak akan mengalami gejolak signifikan. Meski diperkirakan melambat di kuartal pertama, sepertinya tidak akan di bawah 5%. Ditambah dengan rencana lembaga rating Standard & Poors (S&P) yang akan mengumumkan peringkat terbaru Indonesia. S&P merupakan satu-satunya lembaga rating yang belum memberikan investment grade ke Indonesia. Berita positif tentunya dapat menjaga kepercayaan investor.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup flat di Rp13.322 per dollar setelah bergerak dalam range Rp13.311-13.328.