Strategydesk – Dollar mencatat hasil beragam terhadap major currencies, menguat atas yen namun melemah terhadap lainnya. Dollar berhasil menyentuh level tertinggi dalam sebulan atas yen berkat kenaikan yield dan pernyataan Menteri Keuangan AS.
Dollar terangkat setelah yield obligasi AS naik karena pernyataan Menteri Keuangan Steve Mnuchin. Dalam wawancara dengan Bloomberg, ia mengatakan pemerintah bisa menerbitkan obligasi dengan tenor di atas 30 tahun. Yield obligasi tenor 10 tahun naik ke 2,3% setelah Mnuchin optimis dengan prospek penerbitan obligasi jangka ultra panjang.
Kenaikan yield berhasil menopang dollar dari tekanan negatif yang datang dari data buruk. Indeks manufaktur ISM orders melambat pada April, pembelanjaan konsumen flat di Maret dan indikator inflasi penting turun untuk pertama kalinya sejak 2001. Core PCE, indikator inflasi acuan the Fed, turun 0,1% selama Maret, sedangkan tahunan melambat ke 1,6% dari 1,8%.
Dollar menguat 0,1% atas yen ke 112.05 dengan sempat menyentuh high di 112,10 atau tertinggi sejak 21 Maret. Dollar sudah menguat selama tiga minggu terakhir, kini sedang menguji 112,50. Sedangkan indeks dollar flat di 99,05 masih bergerak dalam range 98,50-99,50. Setelah jatuh sampai level terendah dalam lima bulan, ada peluang indeks bangkit.
Sementara itu, aussie gagal mempertahankan penguatannya setelah pengumuman keputusan RBA. Dalam rapat hari ini, RBA mempertahankan suku bunga di 1,50%. RBA optimis dengan pertumbuhan ekonomi, tapi berhati-hati soal pertumbuhan upah yang diperkriakan tetap rendah untuk sementara. Aussie diperdagangkan di $0,7529 setelah sempat melesat sampai $0,7556.

EURUSD

EURUSD 02 Mei

USDJPY

USDJPY 02 Mei

GBPUSD

GBPUSD 2 Mei

USDCHF

USDCHF 3 Mei

AUDUSD

AUDUSD 3 Mei