StrategyDesk (Kamis, 15 Maret 2018)
Periode kenaikan panjang saham-saham sektor teknologi belum dapat membuat investor merasa cukup terhadap kenaikan yang telah terjadi , tetapi bisa jadi keyakinan para investor tersebut untuk saat ini salah kaprah, karena adanya poin penting disini bahwa kondisi ekonomi Amerika cenderung alami penguatan sehingga di luar teknologi sebearnya banyak saham-saham lainnya yang memiliki valuasi nilai yang relatif lebih murah.

Perusahaan-perusahaan papan atas teknologi seperti Apple, Alphabet (Google) dan Facebook menjadi pusat perhatian pasar, khususnya karena saham-saham perusahaan tersebut banyak berikan sumbangan kenaikan bagi indek-indek acuan saham, yang mana perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan indek acuan saham pada tahun lalu, walaupun untuk saat ini perhatian pasar sedikit banyak mulai berpindah kepada sektor finansial.

Sektor teknologi sejauh ini semenjak memasuki tahun 2018 menjadi sektor dengan performa terbaik, dan menjadi sektor dengan pemulihan paling cepat saat pasar alami tekanan jual pada Februari silam, yang mana ditunjukkan dengan kenaikan Nasdaq yang mencapai rekor harga tertingginya dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Tetapi para manager keuangan saat ini terlihat mulai berani untuk bertaruh terhadap sektor teknologi, mereka menilai untuk saat ini kenaikan sektor teknologi sudah sangat besar dan walaupun dalam jangka panjang kenaikan sektor teknologi masih akan terus berlanjut tetapi untuk saat ini mereka lebih cenderung memilih saham-saham dengan valuasi yang relatif murah. Mereka menilai di luar sektor teknologi saat ini ada banyak saham yang memiliki valuasi rendah sehingga memiliki peluang untuk naik yang lebih besar.

Secara garis besar jenis investor dapat di kelompokkan menjadi dua, yang pertama dalah jenis investor “growth” dan yang kedua adalah jenis investor valuasi. Bagi para investor “growth” mereka akan mencari saham-saham dengan pertumbuhan laba dan margin tinggi, sedangkan bagi investor jenis valuasi mereka akan mencari saham-saham yang dinilai memiliki valuasi rendah (undervalue).

Berdasarkan data Thomson Reuters Lipper, sejauh ini untuk tahun 2018, investor di Amerika lebih banyak yang lakukan penarikan uang mereka dari investasi berdasarkan valuasi dibandingka yang berdasarkan growth.

“Growth Stock” sebagian besar alami performa yang sangat baik sejak pasar alami bullish yang dimulai pada sembilan tahun yang lalu, dan pergerakan paling besar dibukukan pada tahun lalu, dimana indek teknologi S&P alami kenaikan hampir 37 persen, bandingkan dengan indek S&P 500 yang hanya alami kenaikan sebesar 19,4 persen.

Untuk keseluruhan tahun 2017, indek Russell growth tunjukkan kenaikan sebesar 28,4 persen sedangkan indek Russell value hanya alami kenaikan 10,9 persen.

Sebagai perbandingan untuk lebih jelasnya, P/E indek Russell growth tahun lalu mencapai level tertingginya sejak 2002. Saat ini indek tersebut diperdagangkan dengan forward P/E 20 kali, sedikit lebih rendah dibandingkan puncaknya pada tahun lalu. Sedangkan indek Russell value diperdagangkan dengan forward P/E dibawah 15, dan merupakan forward P/E terendah sejak 2016.

Sektor teknologi merupakan sektor dengan persentase komposisi terbesar dalam indek Russell Growth 1000, dengan besar persentase 39 persen.

JP Morgan Chase, Berkshire Hayhaway, Exxon Mobil, Bank of America dan Wells Fargo berikan kontribusi besar bagi pergerakan indek Russell 1000 value, sedangkan Apple, Microsoft, Amazon.com, Facebook, dan Alphabet berikan kontribusi besar bagi pergerakan indek Russell 1000 growth.

Dengan demikian maka investasi pada saham valuasi cukup menarik untuk dilakukan karena nilainya yang relatif telah “undervalue”, walaupun saat ini saham growth terlihat masih cenderung untuk disukai oleh para investor.

By |2018-03-15T16:27:34+00:00March 15th, 2018|Laporan Pasar|0 Comments

Leave A Comment