Dolar melemah lebih lanjut terhadap mata uang lainnya di sesi Asia Jumat pagi dipengaruhi bea masuk AS yang diterapkan pada barang impor China serta tindakan balasan dari China mengguncang kepercayaan investor sehingga memberi tekanan pada dolar. Kurangnya data yang dirilis pada hari Jumat ini membuat pasar terdampak perubahan sentimen.

Indeks dolar AS yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama terakhir berada di 89,22 pada pukul 11.34 WIB, melandai turun 0,28%. Indeks dolar mencapai titik terendah lainnya pada hari Jumat setelah diperdagangkan pada level terendah minggu ini di 89,08 pada hari Kamis.

Presiden AS Donald Trump memberi sinyal memorandum kepresidenan untuk menargetkan bea hingga $60 miliar kepada barang-barang China yang karena “penyalahgunaan kekayaan intelektual AS”.

Bank Rakyat China (PBOC) menetapkan tingkat koreksi yuan terhadap dolar pada 6,3272 dibandingkan dengan 6,3167 hari sebelumnya. Pasangan USD/CNY merosot 0,09% menjadi 6,3308.

Merespons tarif anti-China dari Amerika Serikat, China berencana memberlakukan tarif balasan terhadap impor AS senilai $3 miliar – dengan tarif sebesar 15% bagi pipa baja, buah, anggur, dan produk lain dari Amerika Serikat. Selain itu, China juga berencana menambah tarif 25% daging babi dan aluminium daur ulang.

Pasangan USD/JPY menumpahkan 0,44% ke 104,82. Dolar merosot lebih jauh terhadap yen ke titik terendah minggu ini dari 104,74, menembus level 105. Perdagangan dalam pasangan ini banyak didorong oleh sentimen risiko pada titik ini karena investor berpindah ke mata uang safe-haven dalam situasi volatilitas pasar yang meningkat, ketika dua ekonomi terbesar dunia akan menuju perang dagang.

Pasangan AUD/USD diperdagangkan pada 0,7711, naik 0,23%. Kekuatan Aussie yang terkait sentimen China menjelang pengumuman kebijakan Fed diganggu oleh data pekerjaan yang mengecewakan setelah data pengangguran secara tidak terduga menyentuh 5,6% dari 5,5% pada hari Kamis dan risk aversion setelah AS mengeluarkan kebijakan keras kepada China dengan tarif impornya.

sumber: investing.com

By |2018-03-23T13:28:33+00:00March 23rd, 2018|Bisnis & Ekonomi|0 Comments

Leave A Comment