Dolar AS cukup stabil terhadap Yen di sesi perdagangan Senin (02/Apr) awal pekan ini. Belum tampak adanya penurunan tajam pada USD/JPY pagi ini, kendati China telah resmi mengumumkan penerapan bea impor atas barang-barang dari AS yang masuk ke negaranya.

Reli pasangan mata uang tersebut terjeda dari pergerakan minggu lalu, kemungkinan karena sejumlah negara Eropa dan Amerika yang masih dalam suasana libur Paskah. Saat berita ini ditulis, USD/JPY diperdagangkan di angka 106.32. Minggu lalu, USD/JPY mencetak kenaikan hingga 1.5 persen, yang menjadi kenaikan terbesar sejak bulan September 2017.

Dolar AS menguat terhadap Yen minggu lalu berkat munculnya sinyal bahwa China dan AS akan berunding demi mencegah perang dagang. Selain itu, gencatan program nuklir yang dilayangkan oleh Korea Utara juga menerbitkan harapan akan perdamaian di Asia. Oleh karenanya, Yen sebagai mata uang safe haven pun mulai ditinggalkan dan investor kembali membeli Dolar AS.

China Balas AS, Terapkan Bea Impor

Pagi ini, China mengumumkan kenaikan bea impor sebesar 25 persen untuk barang-barang dari AS, khususnya daging babi, buah-buahan, wine, dan sejumlah produk lain. Langkah ini diambil oleh pemerintah Tiongkok sebagai tanggapan atas penerapan bea impor aluminium dan baja oleh Presiden Donald Trump.

Kementerian Perdagangan China menyatakan AS telah serius melanggar aturan-aturan yang ditetapkan oleh World Trade Organization (WTO) dan mengganggu kepentingan China. Oleh sebab itu, walaupun menyadari bahwa masalah ini dapat diselesaikan melalui perundingan dan negosiasi, China tetap merasa berhak untuk mengambil sikap mengingat posisinya sebagai anggota WTO.

sumber: seputarforex.com