Dolar diperdagangkan sedikit tergelincir pada Selasa pagi di sesi Asia di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China. Berkurangnya minat risiko yang diakibatkan oleh ketakutan perang dagang besar-besaran antara dua ekonomi terbesar dunia mendorong safe-haven yen beranjak lebih tinggi. Hasil Upah Non-Pertanian AS juga menjadi fokus investor minggu ini.

Indeks dolar AS yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama terakhir berada pada 89,66 pukul 10.27 WIB, turun 0,03%, memperpanjang penurunannya dari level tertinggi semalam di 89,78.

Sebagai respons terhadap tarif impor baja dan aluminium AS, Tiongkok memberlakukan tarif balasan atas impor AS, dengan tarif tambahan hingga 25% bagi 128 produk Amerika Serikat termasuk daging babi beku, anggur, dan buah serta kacang-kacang tertentu. Laporan aktivitas manufaktur AS bulan Maret menunjukkan pesanan baru melambat di tengah-tengah sengketa perdagangan antara kedua negara.

Di China, The People`s Bank of China (PBOC) mengumumkan tingkat kurs tengah yuan terhadap dolar di 6,2833 versus 6,2764 hari sebelumnya. Pasangan USD/CNYmelonjak naik 0,20% menjadi 6,2889.

Pasangan USD/JPY diperdagangkan flat di 105,89. Yen mengalami penguatan luas karena greenback yang merosot sementara ekuitas dan aset berisiko lainnya jatuh pada aksi pasar pasca-liburan di tengah memudarnya minat risiko (risk appetite). Pasangan ini telah turun di bawah kisaran 106 semalam ke level terendah hari Selasa di 105,67 dan diperdagangkan di sekitar kisaran Selasa pagi.

Pasangan AUD/USD diperdagangkan di 0,7679, naik 0,22%. Pasar secara luas memperkirakan tidak ada nada hawkish dari keputusan suku bunga Reserve Bank of Australia karena Bank Sentral tersebut diharapkan akan mempertahankan suku bunga hingga tahun depan.