StrategyDesk (Rabu, 11 April 2018)
Pada Selasa kemarin CEO Facebook Mark Zuckerberg lakukan sesi tanya jawab dengan senat Amerika. Senator Amerika lakukan pemanggilan Zuckerberg terkait skandal penggunaan data dan informasi sebanyak 87 juta pengguna Facebook tanpa izin oleh Cambridge Analytica dalam kaitannya dengan kampanye saat Donald Trump mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika.

Secara keseluruhan Zuckerberg dinilai dapat berikan jawaban yang memuaskan pada sesi tanya jawab tersebut. Secara keseluruhan dari sisi tanya jawab tersebut, Zuckerberg secara formal memohon maaf atas kesalahan yang terjadi pada perusahaan yang dipimpinnya, sehingga skandal tersebut dapat terjadi. Dan kedepannya ia berjanji untuk meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap para pengguna dan hubungan sosial mereka.

Terkait dengan jawaban-jawaban yang disampaikan oleh Zuckerberg pada Selasa kemarin, pengaruhnya sangat positip terhadap saham Facebook, dimana harga saham perusahaan tersebut alami kenaikan sebesar 4,5 persen pada Selasa kemarin.

Walaupun demikian sesi tanya jawab tersebut masih akan berlanjut pada hari Rabu ini. Pada malam hari ini Zuckerberg dijadwalkan akan sampaikan testimoni didepan “House Energy and Commerce Committee”. Sehingga dengan demikian kelanjutan dari cerita pergerakan saham Facebook terkait skandal tersebut masih akan berlanjut pada malam ini.

Selain cerita mengenai Facebook lanjutan dari drama konflik kebijakan perdagangan antara Amerika dan China juga masih memiliki kelanjutannya pada hari ini. Sebelumnya, pada hari Selasa kemarin Wall Street alami kenaikan yang cukup besar setelah Presiden China Xi Jinping menyatakan bahwa pemerintah China berencana untuk lakukan penurunan tarif masuk barang impor dari China untuk produk mobil pada tahun ini.

Didukung oleh pernyataan dari Xi Jinping tersebut, Dow Jones industrial average alami kenaikan sebesar 1,8 persen, S&P 500 alami kenaikan 1,7 persen, sedangkan Nasdaq alami kenaikan sebesar 2,1 persen.

Dengan rencana kebijakan penurunan tarif yang dikhususkan untuk produk otomotif, maka saham-saham produsen mobil alami kenaikan, termasuk diantaranya adalah GM (GM), Ford (F), Honda (HMC), dan Tesla (TSLA). Sedangkan saham perusahaan yang jika perang perdagangan terus berlangsung alami kerugian signifikan akan alami kerugian, terlihat juga ikut alami kenaikan, termasuk diantaranya adalah Boeing (BA) dan Caterpillar (CAT) keduanya alami kenaikan hampir 4 persen.

Untuk sore hari ini, setelah kenaikan yang terjadi pada hari Selasa kemarin, indek acuan saham berjangka Amerika terlihat alami penurunan. Bursa saham Eropa juga terlihat alami penurunan pada pembukaannya. Dan bursa saham untuk wilayah Asia, pada hari ini ditutup dengan kecenderungan pergerakan mix.

Harga acuan minyak mentah pada sore hari ini juga terlihat alami penurunan sebesar 0,3 persen. Sebelumnya pada awal minggu ini, harga acuan minyak mentah alami penguatan akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas.

Pada hari ini, para investor minyak mentah akan berikan perhatian terhadap data inventori minyak mentah Amerika. Data tersebut dijadwalkan akan rilis pada pukul 10:30 a.m.ET.

Selain data inventori minyak mentah, pada malam hari ini Departemen Tenaga kerja Amerika dijadwalkan akan merilis data cunsumer price index (CPI) pada pukul 8:30 a.m.ET.

Federal Reserve pada hari Kamis dini hari di jadwalakan akan merilis FOMC minutes yang merupakan kesimpulan dari pertemuan terakhir Fed pada akhir Maret kemarin, yang rilis pada pukul 1:00 p.m.ET. Para investor saat ini menaruh kekhawatiran terhadap tingkat inflasi, dimana jika inflasi alami kenaikan signifikan maka ada kemungkinan Bank Sentral akan ambil kebijakan kenaikan tingkat suku bunga yang lebih banyak dari yang direncanakan sebelumnya.

Informasi lainnya yang akan dirilis pada malam hari ini akan datang dari zona euro. Presiden European Central Bank, Mario Draghi diperkirakan akan berbicara di Frankfurt pada pukul 6:00 a.m.ET. Beberapa waktu terakhir, ECB juga memancing perhatian para pelaku pasar, dimana saat ini ECB menjadi sorotan terkait rencana mereka untuk lakukan normalisasi terhadap kebijakan Moneter dan menaikan tingkat suku bunga acuan mereka.

By |2018-04-11T17:20:59+00:00April 11th, 2018|Analisa|0 Comments

Leave A Comment