StrategyDesk (Kamis, 19 April 2018)
Saham-saham perusahaan pertambangan energi alami kenaikan pada perdagangan Asia hari Kamis ini, didukung oleh harga minyak mentah yang alami kenaikan hingga mencapai level harga tertingginya sejak akhir 2014 dan kenaikan tersebut juga ikut berikan efek positip bagi kenaikan komoditi lainnya. Kondisi tersebut kedepannya akan meningkatkan inflasi global dan juga disisi lain akan berikan tekanan bagi asset-asset fixed-income.

Kontrak berjangka minyak mentah jenis Brent alami kenaikan sebesar 37 sen dan bertahan pada level harga $73,85 per barrel. Sebelumnya pada kemarin malam kontrak berjangka minyak mentah ini telah alami kenaikan sebesar 2,7 persen. Sedangkan minyak mentah Amerika saat ini alami kenaikan sebesar 26 sen menjadi $68,73.

Kenaikan harga minyak mentah terjadi setelah Reuters melaporkan bahwa Saudi Arabia anggota OPEC berikan target harga minyak mentah $80 per barrel hingga $100 per barrel, sehingga sebelum kondisi tersebut terwujud tidak akan ada perubahan apapun terhadap kebijakan pengurangan suplai minyak mentah.

Berita dari OPEC tersebut di kombinasikan juga dengan sangsi terhadap Russia akan dapat membuat suplai minyak mentah alami penurunan signifikan. Disisi lain, harga Almunium terlihat alami kenaikan dan mencapai level harga tertingginya sejak 2011, dan komoditi Nikel alami kenaikan mencapai level tertingginya dalam enam setengah tahun.

Kenaikan saham-saham pertambangan dan energi menjadi pendorong utama pasar pada hari ini. Dan kenaikan tersebut ikut mendorong kenaikan saham-saham “blue chips” China, yang alami kenaikan sebesar 1,1 persen. Indek MSCI Asia-Pacific, yang menghitung pergerakan bursa saham di wilayah Asia-Pacific di luar Jepang alami kenaikan sebesar 0,9 persen, dengan kenaikan sektor energi diatas 2,6 persen.

Indek Nikkei ditutup dengan alami koreksi menjelang penutupan, dengan kenaikan hanya sebesar 0,15 persen, tetapi untuk sektor basic material dan utilities keduanya alami kenaikan lebih dari 2 persen.

Sentimen bullish yang saat ini terjadi didukung oleh optimisme para pelaku pasar terhadap pertumbuhan ekonomi. Ekonomi global diperkirakan akan alami pertumbuhan pada tahun ini dan akan menjadi pertumbuhan ekonomi tercepat sejak 2010, kesimpulan tersebut diperoleh dari hasil pooling reuters terhadap 500 lebih ekonom di seluruh dunia.

Indek berjangka E-mini S&P 500 alami kenaikan sebesar 0,1 persen, begitu juga dengan indek berjangka FTSE.

Disisi lain, saham IBM pada Rabu kemarin alami penurunan sebesar 7,5 persen dan berikan banyak pengaruh negatif bagi S&P 500. Penurunan tersebut terjadi setelah perusahaan ini sampaikan laporan keuangan dengan margin laba dibawah perkiraan analis.

Dow pada pagi hari ini ditutup dengan alami penurunan sebesar 0,16 persen, sedangkan S&P 500 alami kenaikan sebesar 0,08 persen. Nasdaq pada pagi hari ini ditutup dengan kenaikan 0,19 persen.

Untuk pasar mata uang, nilai tukar dollar terlihat masih cenderung bergerak stabil. Nilai tukar dollar terhadap Yen Jepang berada pada level 107,46, dibawah level tertinggi jangka pendek 107,78.

Nilai tukar euro berada pada $1,2374 masih berada dibawah level harga tertinggi jangka pendek $1,2413.
Penguatan harga komoditi ikut mendongkrak kenaikan nilai tukar dollar Australia.