StrategyDesk (Senin,5 Maret 2018)

Bursa saham untuk wilayah Asia secara keseluruhan pada hari Senin (3/5/2018) alami penurunan dan mencapai level harga terendahnya dalam tiga minggu terakhir. Adanya kekhawatiran mengenai perang perdagangan global menjadi pemicu utama penurunan tersebut. Disisi lain nilai tukar euro terlihat mulai alami ketidak stabilan dan berpeluang untuk alami volatilitas, ada kekhawatiran pemilu di Itali akan berikan kondisi ketidak pastian.

Nilai tukar dollar Amerika alami penurunan dalam empat sesi perdagangan terakhir, dan di perdagangkan pada kisaran harga 105,49 yen, walaupun demikian level harga tersebut masih berada diatas level harga terendah hari Jum’at yaitu 105,23; level harga tersebut belum pernah muncul sejak November 2016.

Indek nilai tukar dollar, yang mengukur pergerakan dollar Amerika terhadap mata uang utama dunia lainnya secara keseluruhan tidak alami perubahan, cenderung datar.

Perang perdagangan internasional kembali mewaranai pergerakan pasar. Sebelumnya presiden Amerika Donald Trump menyatakan akan menaikkan tarif import bagi komoditi material baja dan almunium. Sebelumnya juga terkait NAFTA Presiden Trump juga berikan tekanan terhadap perjanjian perdagangan bebas NAFTA. Berita terbaru menyebutkan European Union akan menaikkan tarif senilai 25 persen terhadap barang import senilai kurang lebih $3,5 milliar dari Amerika Serikat jika Amerika masih terus lakukan tekanan-tekanan terhadap perdagangan internasional.

Disi lain China pada hari Minggu kemarin menyatakan bahwa mereka tidak akan menanggapi sikap terkait kebijakan yang diambil oleh Amerika, mereka cenderung untuk ambil sikap bertahan terkait kepentingan mereka terhadap eksport ke Amerika. Walaupun demikian tekanan-tekanan yang dilakukan oleh Amerika berpeluang untuk merusak hubungan bilateral kedua negara.

Saat ini para pelaku pasar mengkhawatirkan momentum pertumbuhan ekonomi global dapat rusak jika Presiden Trump terus menerus mengambil sikap yang akan memicu perang perdagangan internasional.

Indek acuan saham Asia indek MSCI yang mengukur pergerakan saham-saham Asia-Pacific di luar Jepang alami penurunan 0,8 persen dan merupakan level harga terendah sejak pertengahan Februari. Indek tersebut telah alami penurunan lebih dari 2 persen dalam seminggu terakhir.

Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan keduanya alami penurunan sebesar 0,7 persen, sedangkan saham di China pada hari ini alami koreksi setelah pada awal pembukaan alami kenaikan.

Indek acuan saham berjangka Amerika terlihat juga tidak terlalu meyakinkan untuk dapat alami kenaikan, dimana S&P E-Minis alami penurunan sebesar 0,5 persen dan indek acuan berjangka Dow turun 0,4 persen.

Untuk minggu ini, para investor akan berikan perhatian lebih terhadap data ekonomi, dengan puncak data minggu ini adalah data non-farm payrolls Amerika yang rilis hari Jum’at. Adanya pembukaan kongres tahunan National People di China akan menjadi fokus tambahan para pelaku pasar minggu ini. Parlemen China masih pertahankan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,5 persen untuk tahun ini.

Untuk perkembangan di sektor komoditi, harga minyak mentah terlihat alami kenaikan menjelang pertemuan OPEC dan pertemuan perusahaan minyak Amerika di Houston.

Harga acuan minyak mentah jenis Brent alami kenaikan sebesar 30 sen menjadi $64,67 per barrel sedangkan harga “light crude” alami kenaikan sebesar 47 sen menjadi $61,64.

Harga acuan emas alami kenaikan sebesar 0,3 persen menjadi $1.325,96.