Salah satu alasan mengapa USD sampai tertekan sedemikian rupa adalah adanya aliran ekuitas di pasar obligasi global, dan sampai saat ini para pelaku pasar obligasi terus mengamati spread antara obligasi  AS dengam obligasi negara lain, terutama negara negara Uni Eropa, hal ini terjadi merupakan suatu sikap antisipatif pasar atas ‘ reflation Trump’  yang  menyebabkan pengetatan premi yield AS terhadap obligasi negara lain.

Bagi para pelaku FX hal tersebut juga sangat penting dimana  bottoming (harga bawah) dalam harga tarif yields AS, yang akan memungkinkan imbal hasilnya terus mendekati harga tarif yields negara lain, suatu  penyempitan yield spread (yang dipaksakan)  bisa memungkinkan penguatan mata uang kuat lainnya seperti EUR, JPY, dan GBP yang juga tentunya memiliki harga tarif yields berdasar atas mata uang tersebut.

Oleh karena itu, penguatan EUR dan JPY memperlihatkan kinerja yang buruk bagi indeks USD dimana fokus pasar pada  harga di bawah 99,23 ke retracement 50% sampai dengan 97,87 pergerakan dari kisaran bulan Mei 2016 – Januari 2017 lalu. Target harga ini kemungkinan akan ‘mengisi ‘ saluran pergerakan korektif.