Pekan lalu adalah kegagalan USD/JPY untuk menembus harga tertinggi di bulan Februari (114,96), terpicu oleh Nikkei 225 yang juga gagal untuk menembus tertinggi di tahun 2017 (19.698), dan nilai tukar dolar-yen dapat berbagi nasib yang sama karena perjuangan untuk memperpanjang tinggi tertinggi & terendah dari minggu sebelumnya.

Prospek yang lebih luas untuk USD/JPY masih tetap tertuju pada perkembangan yang konstruktif dari Ketua The Fed Janet Yellen yang bersama rekan-rekannya terus mengeluarkan pendapat mereka bahwa; kenaikan suku bunga di bulan Maret akan ‘sesuai,’ dengan “hitungan” Fed Fund Futures pricing probabilitas yang hasilnya akan lebih besar dari 80%. Namun, ada pernyataan baru yang keluar dari Federal Reserve yang menurut analisa mereka bahwa; daya tarik greenback menunjukkan dalam proyeksi jangka panjang.

Namun demikian, pasar melihat sepertinya Bank of Japan (BoJ) cenderung mendukung pandangan dovish pada keputusan naiknya suku bunga pada 16 Maret nanti dalam upaya pencapaian target 2% untuk inflasi yang masih jauh dari apa yang diharapkan, dukungan juga datang dari Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda yang terus mengejar program kuantitatif dan kualitatif Easing (QQE) dengan Yield-Curve Controlnya.

Secara teknikal USD/JPY masih dibatasi oleh tumpang tindihnya Fibonacci disekitar area 114.00 (23,6% retracement) sampai 114,30 (23,6% retracement), target downside akan menjadi fokus selama beberapa hari mendatang, dengan target area 113,10 (78,6% retracement ) apabila tembus ke area 112,40 (61,8% retracement) sampai 112.50 (38,2% retracement).