StrategyDesk (Kamis, 8 Maret 2018)
Banyak analis yang menilai bahwa valuasi dari nilai tukar dollar Amerika dalam beberapa waktu terakhir alami penurunan dengan cepat. Dan sebagaian dari mereka cukup yakin masih akan ada penurunan lagi bagi valuasi nilai tukar dollar Amerika. Dan terjadi atau tidaknya penurunan tersebut akan sangat bergantung pada pemulihan ekonomi global yang dilihat oleh para ekonom, mengingat pemulihan ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi sorotan.

Jika diperhatikan lebih jauh penyebab utama dari penurunan yang terjadi belakangan banyak peroleh faktor dari kebijakan dari Presiden Amerika Donald Trump, khususnya terkait kebijakan kenaikan tarif barang import yang belakangan menarik perhatian seluruh dunia. Analis menilai kebijakan tarif yang dikeluarkan oleh Presiden Trump tersebut berpeluang untuk menghambat pemulihan ekonomi global, atau bahkan berpeluang untuk merusak pemulihan ekonomi global yang saat ini masih berlangsung.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar dollar Amerika sejak 8 Januari tahun 2018 telah alami penurunan sebesar 7 persen terhadap nilai tukar Yen. Penurunan tersebut sebanding dengan 34 persen kerugian annual.

Director IMF Cristine Lagarde belakangan juga mulai perhatikan kebijakan Tarif yang direncanakan akan di jalankan oleh Trump yang dapat berikan pengaruh negatif terhadap ekonomi dunia. Walaupun hingga saat ini IMF belum melakukan tindakan apapun.

Berdasarkan data yang dimiliki oleh TD Securities, kebijakan serupa sebenarnya pernah belangsung di zaman pemerintahan George W.Bush dan Bill Clinton pada 2002 dan 1995. Pada saat itu akibat dari kebijakan tersebut menyebabkan para pelaku pasar uang lakukan penjualan terhadap dollar Amerika dan membuat dollar Amerika alami pelemahan hingga 15 persen.

Berita terbaru yang menyebutkan penasehat ekonomi utama Gedung Putih yang lakukan pengunduran diri menambah keyakinan para pelaku pasar bahwa ada kemungkinan yang cukup besar aturan kenaikan tarif tersebut akan tetap direalisasikan.

Proposal Trump yang menjadi pemicu penurunan nilai tukar dollar tersebut berisi mengenai rencana kenaikan tarif import baja sebesar 25 persen dan kenaikan import almunium sebesar 10 persen kemungkinan besar akan teetap dilanjutkan pada minggu ini, walaupun keputusan tersebut belakangan telah menimbulkan protes dari negara-negara terdekat Amerika, termasuk diantaranya adalah European Union, China, dan NAFTA (MExico dan Canada).

Kebijakan tarif tersebut dinilai akan memiliki pengaruh negatif oleh sebagian besar analis dan para pelaku pasar karena kebijakan tersebut akan membuat terjadinya kenaikan harga barang import di Amerika, menurunkan jumlah permintaan, dan menurunkan jumlah import. Kebijakan tersebut juga dinilai akan memberikan tekanan bagi nilai tukar dollar Amerika karena akan memnjadi penyebab terjadinya “money out flow” dari Amerika menjadi alat tukar yang lebih aman (safe-haven) seperti Yen sebagai salah satunya.

Analis juga menilai bahwa nilai tukar dollar juga memiliki peluang untuk alami pelemahan terhadap mata uang di luar Yen, seperti euro, poundsterling, swiss franc. Resiko pelemahan dollar juga akan meningkat karena sampai dengan hari Jum’at minggu ini akan ada beberapa even data dan pertemuan bank sentral. Data laporan tenaga kerja bulanan akan dirilis pada hari Jum’at, serta akan ada laporan kesimpulan hasil pertemuan ECB, BOJ, RBA dan Bank of Canada.

Sehingga dengan kondisi demikian maka saat ini, asset-asset “Safe-Heaven” akan kembali mulai disukai oleh para pelaku pasar. Selain Yen aset safe-haven lainnya yang juga berpeluang alami kenaikan valuasi adalah emas.