Data PPI AS turun dibulan Maret (Kamis pekan lalu) untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan, terbebani oleh penurunan biaya layanan dan produk-produk energi, namun merupakan peningkatan tahunan terbesar dalam lima tahun, yang dapat meningkatkan inflasi.
Departemen Tenaga Kerja mengatakan di hari yang sama bahwa penurunan PPIsebesar – 0,1 persen bulan lalu merupakan penurunan pertama sejak Agustus 2016 dan diikuti kenaikan 0,3 persen pada Februari 2017. Meskipun selama setahun PPI melonjak 2,3 persen sampai Maret kemarin.
Yang merupakan kenaikan terbesar sejak Maret 2012 dan diikuti lompatan sebesar 2,2 persen dibulan Februari.
Harga energi turun 2,9 persen, dengan biaya bensin jatuh 8,3 persen,  harga energi meningkat 0,6 persen pada Februari.

Melihat hasil data di Kamis pekan lalu itu membuktikan efek kuatnya dolar AS dan dampaknya ke para produsen dalam negeri AS, yang membuat Presiden Trump “wajar” mengeluarkan pernyataan bahwa dolar AS terlalu kuat, yang memang membebani perekonomian mereka sendiri.

Menurut analisa saya, pelemahan dolar AS tersebut tidaklah akan se-masive kenaikannya, tapi akan terus melemah perlahan seiring dengan fundamental ekonomi dunia (tidak hanya AS), yang sudah secara nyata terlihat lebih baik dibanding ekonomi AS itu sendiri, pergerakan koreksi di bulan Mei nanti bisa dipakai untuk sinyal reversal bagi tren pergerakan mata uang utama dunia yang versus dolar AS, dan secara teknikal “seharusnya” terjadi, untuk mengejar target kuartal kedua di tahun ini.