Data ekspor Jepang untuk bulan Maret dirilis naik sebagai kenaikan dalam empat bulan beruntun untuk merefleksikan pemulihan moderat pada perekonomian Jepang, ungkap Menteri Perdagangan Jepang Kamis. Kenaikan ekspor untuk bulan Maret naik hingga 12 persen dari tahun sebelumnya berbanding dengan estimasi median hanya naik 6.2 persen. Data Impor naik 10.58 persen untuk mengalahkan estimasi median 10 persen. Surplus untuk ekspor-impor tercatat sebesar 614.7 miliar yen ($5.64 miliar) dibanding dengan estimasi 608 miliar yen.

Rilis data tersebut hadir jelang akhir kunjunga  Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence ke Jepang, yang menekankan perlunya perjanjian perdagangan bilateral yang lebih seimbang untuk Amerika. Ekspor merupakan titik terang baru bagi ekonomi Jepang, yang masih berjuang untuk menghasilkan permintaan domestik yang sehat.

Ekspor ke China dan ekonomi Asia lainnya telah pulih sejak pertengahan 2016, Yuichiro Nagai dan Yukito Funakubo dari Barclays Securities Japan Ltd. menulis dalam sebuah catatan sebelum data tersebut dirilis. Apakah kawasan itu terus mendorong ekspansi ekspor Jepang akan menjadi pusat fokus dari kalangan analis, cetus mereka. “Angka ekspor Februari cukup tinggi karena Tahun Baru Imlek, jadi angka bulan Maret akan lebih stabil,” kata Yoshiki Shinke, kepala ekonom di Dai-Ichi Life Research Institute, sebelum rilis. “Itu seharusnya dilihat sebagai volatilitas dari liburan. Ekspor terus meningkat.”

Impor gas alam dari A.S. dapat meningkat karena dialog ekonomi A.S.-Jepang, Kengo Tanahashi, ekonom Nomura Securities Co Ltd, mengatakan sebelum rilis. Tapi tidak mungkin Jepang mengimpor cukup banyak untuk menghilangkan defisit perdagangan A.S., katanya.

Sebagai rinciannya, Ekspor ke A.S. meningkat 3,5 persen dari tahun sebelumnya sedangkan ekspor ke Uni Eropa naik 1,4 persen. Pengiriman ke China, mitra dagang terbesar Jepang, melonjak hingga 16,4 persen.