Harga minyak terus menguat pada Rabu pagi di sesi Asia di tengah ketegangan situasi di Timur Tengah.

Minyak Mentah WTI Berjangka untuk pengiriman Mei diperdagangkan pada $63,73 per barel di sesi Asia pada pukul 10.00 WIB, naik 0,30%. Minyak Berjangka Brentuntuk pengiriman Mei, yang diperdagangkan di London, juga naik 0,30% ke $67,62 per barel.

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, tiba di Washington pada hari Selasa untuk memulai kunjungan kenegaraan, meningkatkan spekulasi sebuah agenda untuk meningkatkan tekanan kepada Iran. Setelah mendapat kritik baru dalam kesepakatan nuklir tahun 2015, Amerika Serikat bisa mengajukan sanksi ulang kepada Iran, sebuah kekhawatiran yang telah mengangkat harga minyak.

Jika AS memberlakukan kembali sanksi terhadap Iran, yang kemungkinan akan menghasilkan pengurangan jumlah ekspor 250.000 hingga 500.000 barel per hari (bpd) pada akhir tahun, menurut konsultan energi FGE.

Pencalonan Mike Pompeo sebagai Menteri Luar Negeri AS yang baru juga meningkatkan kemungkinan gangguan perdagangan minyak, mengingat ia dengan keras menentang pakta tahun 2015 tersebut saat masih menjabat sebagai anggota Kongres Parlemen AS.

Harga pendukung lebih lanjut adalah permintaan yang sehat bagi minyak. American Petroleum Institute mengatakan pada hari Selasa bahwa stok minyak mentah AS turun 2,7 juta barel dalam pekan yang berakhir 16 Maret menjadi 425,3 juta. Ini merupakan sinyal permintaan yang sehat.

Namun, pasokan non-OPEC, yang dipimpin oleh AS, akan tumbuh sebanyak 1,8 juta bpd tahun ini, sementara permintaan hanya akan tumbuh sekitar 1,5 juta bpd.

AS telah melampaui eksportir Saudi Arabia dalam produksi minyak mentah dan diperkirakan akan mengambilalih posisi Rusia sebagai produsen terbesar minyak pada akhir 2018, dengan output lebih dari 11 juta bpd.

Lonjakan tak henti-hentinya dalam produksi AS telah membatasi harga minyak dan merongrong upaya dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk menopang harga dengan menahan produksi. OPEC telah memangkas produksi sekitar 1,2 juta barel per hari sejak Januari 2017, yang secara tidak sengaja telah mengizinkan AS untuk mengambil alih pangsa pasar.