StrategyDesk. Pada hari Jum’at (3/2/2018) Gubernur Bank Sentral Jepang Haruhiko Kuroda menyatakan bahwa Bank of Japan (BOJ) baru akan mulai untuk mempertimbangkan penghentian program stimulus moneter pada tahun fiskal 2019 yang akan dimulai pada bulan April 2019.

Setelah diberitakannya pernyataan Kuroda tersebut, nilai tukar Yen alami kenaikan kurang lebih sebesar 0,5 persen menjadi 105,71 per dollar Amerika dan tingkat suku bunga surat hutang juga terlihat ikut alami kenaikan. Indek acuan saham Jepang Nikkei 225 ditutup dengan penurunan sebesar 2,5 persen dan indek Topix turun sebesar 1,8 persen.

Pertimbangan mengenai rencana penghentian stimulus tersebut bukanlah tanpa alasan, karena disisi lain bank sentral raksasa dunia lainnya juga terlihat lakukan hal serupa. Seperti diketahui Federal Reserve Amerika telah ambil langkah lebih dahulu dengan menaikkan tingkat suku bunga acuannya, dan European Central Bank saat ini sedang alami perdebatan sengit diantara para penentu kebijakannya untuk lakukan normalisasi tingkat suku bunga acuan.

Terkait pernyataan Kuroda tersebut banyak para pengamat ekonomi yang berpendapat bahwa pencabutan kebijakan stimulus BOJ berpeluang akan diambil sebelum tahun 2019 berakhir, salah satunya adalah Rodrigo Catril, curency strategist pada National Australian Bank Ltd di Sydney.