Strategydesk – Minyak naik tipis hari ini setelah anjlok ke level terendah dalam tiga bulan kemarin, tertekan oleh kekhawatiran mengenai pasokan global yang masih berlimpah, terutama di AS.

oilfield-2Sentimen pasar jatuh karena laporan yang menunjukkan produksi AS terus meningkat dan stok terus bertambah. Data Rabu lalu ,menunjukkan cadangan minyak AS bertambah 8,2 juta barel minggu lalu menjadi rekor 528,4 juta barel. Aktivitas pengeboran juga meningkat, dengan produsen berencana memperluas produksi di North Dakota, Oklahoma dan kawasan shale lainnya. Ditambah lagi, output bertambah di Permian, kilang minyak terbesar AS.

Hal ini menekan sentimen bullish yang datang setelah OPEC dan produsen lainnya melaksanakan pemangkasan sepanjang semester pertama tahun ini. Apalagi Arab Saudi dan Rusia belum bisa memastikan apakah kesepakatan pemangkasan ini berlanjut di semester kedua. Kesepakatan inilah yang mendongkrak harga dalam beberapa bulan terakhir, tapi kenaikan harga dimanfaatkan oleh produsen shale di AS untuk menggenjot produksi.

Selain itu, penguatan dollar turut memberi tekanan ke harga minyak. Greenback menguat di tengah prospek kenaikan suku bunga the Fed. Data payroll malam nanti menjadi faktor penentu apakah the Fed bisa menaikkan suku bunganya dalam rapat 14-15 Maret nanti. Namun, bila dollar terkoreksi, harga minyak berpeluang rebound.

Pada jam 17:00 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman April diperdagangkan di $50,03 setelah sempat anjlok sampai ke $48,99 kemarin, terendah sejak 30 Nopember. Penutupan di atas $50 membuka jalan untuk menuju $51-51,50.