Strategydesk – Minyak menyentuh level tertinggi dalam sebulan menyusul pertanda menyusutnya pasokan di AS dan bertambahnya harapan berlanjutnya kesepakatan pemangkasan OPEC.

Oil 3Data dari American Petroleum Institute (API) semalam menunjukkan cadangan minyak AS turun 1,8 juta barel minggu lalu. Fokus kini teruju ke data versi Energy Information Administration (EIA) nanti malam, apakah juga menegaskan penurunan. Selain itu, para analis juga menyorot angka cadangan produk BBM seperti bensin, yang akhir-akhir ini mengalami penurunan.

Harga juga terangkat di tengah harapan OPEC bisa melanjutkan kesepakatan pemangkasan output sampai semester kedua. Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan pemangkasan produksi mulai membuahkan hasil dan ia optimis pasar mulai mencapai keseimbangan. OPEC dan beberapa produsen besar seperti Rusia menjalankan pemangkasan selama semester pertama, ada spekulasi kesepakatan berlanjut di semester berikutnya.

Di tengah pemangkasan output dan ekspektasi peningkatan permintaan memasuki musim panas di AS, beberapa lembaga memproyeksikan harga minyak masih bullish. UBS dan BNP Paribas memperkirakan harga bisa menyentuh level $60 per barel tahun ini. Bahkan ada yang memperkirakan lebih dari itu, Andurand Capital Manuagement memproyeksikan harga bisa meraih $70.

Pada jam 16:50 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Mei naik 65 sen ke $51,95 per barel setelah naik 85 sen kemarin. Sejak jatuh ke level terendah dalam empat bulan akhir Maret, harga rebound dan cenderung menanjak. Penutupan di atas $52,30 membuka jalan menuju $52,70-53,00.