Strategydesk – Dollar masih belum lepas dari tekanan hari ini, setelah jatuh akhir pekan lalu akibat aksi ambil untung meski data ketenagakerjaan AS keluar bagus. Namun banyak pelaku pasar yang masih bullish pada greenback di tengah prospek kenaikan suku bunga the Fed.
Pertumbuhan lapangan kerja pesat selama Februari dan tingkat pengangguran turun. Payroll tumbuh 235.000 selama bulan itu, jauh di atas prediksi 170000, membuat tingkat pengangguran turun 0,1% ke 4,7%. Pertumbuhan upah rata-rata, yang menjadi cikal bakal inflasi, mencapai 2,8% di bulan itu. Pertumbuhan lapangan kerja di atas 200 ribu selama beberapa bulan terakhir dianggap sebagai bukti solidnya ekonomi AS.
Tapi dollar terkoreksi pasca data tersebut, diterjang aksi ambil untung. Ini merupakan kejatuhan mingguan pertama dalam lima minggu terakhir. Rentetan penguatan selama empat minggu sebelumnya terbentuk karena pernyataan hawkish para pejabat the Fed mengenai arah kebijakan. Oleh karena itu, para pelaku pasar yang masih bullish mengandalkan hasil keputusan the Fed sebagai acuan pergerakan. Sebagai cerminan optimisme, hedge funda dan spekulan lainnya menambah posisi bullish pada dollar untuk pertama kalinya dalam delapan minggu.
Pasar akan berfokus pada pembaruan “dot plot” atau proyeksi pergerakan suku bunga ke depan. Pasar memperkirakan tiga kali kenaikan untuk tahun ini dan data payroll menjaga ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan di Juni, setelah kenaikan bulan ini. The Fed akan menggelar rapat pada 14-15 Maret, diperkirakan menaikkan rate sebesar 25 bps ke 1%.
Indeks dollar turun 0,1% ke 101,17 setelah jatuh 0,8% akhir pekan lalu. Penutupan di bawah 101 membuka jalan menuju 100,90-100,80. Terhadap yen, dollar diperdagangkan di 114,79 setelah koreksi 0,2% akhir pekan lalu.

EURUSD

EURUSD 13 Mar

USDJPY

USDJPY 13 Mar

GBPUSD

GBPUSD 13 Mar

USDCHF

USDCHF 13 Mar

AUDUSD

AUDUSD 13 Mar