Strategydesk – Rupiah melemah terhadap dollar AS hari ini menyusul penguatan dollar yang didukung oleh data ekonomi AS. Namun sepanjang Maret, rupiah relatif stabil.

rupiahData semalam menunjukkan PDB AS tumbuh 2,1% selama kuartal keempat, direvisi naik dari sebelumnya 1,9%. Revisi ini terjadi berkat pembelanjaan konsumen. Selama periode itu, pembelanjaan konsumen AS naik 3,5%. Kemudian initial jobless claim yang turun menjadi 258.000 minggu lalu dari 261.000 di pekan sebelumnya.

Melihat pergerakan minggu ini, rupiah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat bulan, di saat dollar mengalami kejatuhan terhadap mata uang dunia setelah RUU kesehatan kandas di Kongres AS. Kandasnya RUU tersebut menimbulkan kekhawatiran rencana reformasi pajak pemerintahan Trump bakal tertunda. Pasalnya, rencana kebijakan Trump ini menjadi salah satu faktor yang mengangkat dollar. Tapi seiring dengan reboundnya, dollar, rupiah mengalami koreksi.

Meski demikian, sepanjang dua bulan terakhir, rupiah bergerak dalam range yang sama, di 13000. Ini mencerminkan stabilitas nilai tukar. Deputi Gubernur BI Mirza Adityaswara mengatakan volatilitas rupiah saat ini di bawah 3%, jauh dibandingkan 2013 yang mencapai 12%. Capital inflow turut berperan menjaga stabilitas rupiah. Sampai minggu kedua Maret, inflow mencapai Rp31 triliun, naik dibandingkan Februari yang Rp26 triliun.

Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi dalam negeri. Satu hal yang disayangkan adalah ternyata S&P belum menetapkan status investment grade untuk Indonesia. Padahal banyak yang berharap itu terwujud, mengingat S&P satu-satunya lembaga rating yang belum melakukannya. Dari luar, satu hal yang patut diperhatikan adalah arah kebijakan moneter dan fiskal AS.